Tradisi Orang Semarang Saat Puasa dan Lebaran

0

Apa sih yang paling Anda rindukan dari Lebaran? Setiap orang bisa jadi akan memiliki jawaban yang berbeda. Namun berkaitan dengan Puasa dan Lebaran ada kebiasaan yang pasti kita lakukan dari tahun ke tahun sehingga disebut sebagai tradisi. Lebaran misalnya, di Indonesia sangat kuat dengan tradisi mudik, yang ternyata tidak menjadi tradisi Lebaran di negera lainnya.

Tradisi lain saat Lebaran adalah ketupat. Rasanya belum lengkap Lebaran jika belum makan ketupat. Ketupat sudah lama dikenal di berbagai daerah di Indonesia. Makanan ini menjadi simbol perayaan umat Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. Kata ketupat atau kupat juga memiliki filosofi yang sesuai dengan semangat lebaran, yaitu “ngaku lepat” (mengaku salah).

Mudik juga menjadi tradisi yang melekat pada lebaran. Pergerakan besar penduduk dari suatu daerah ke daerah lain yang terjadi bersamaan, menjadi pusat pemberitaan media. Lalu bagaimana dengan tradisi saat puasa dan lebaran di Semarang? Tabloid Simpang5 mewawancarai beberapa nara sumber dari bidang yang berbeda.

Pertama Vindy Kartika Dewi, Owner Diyo Siba Cabang Semarang. Ramadan tahun ini adalah Ramadan pertama bagi Vindy setelah keluar dari dunia perhotelan. Menurutnya, sekarang ini dia bisa lebih fokus ibadah. Memang kegiatannya sekarang sebagai mengelola biro perjalanan umroh, jauh berbeda dengan kegiatan sebelumnya.

“Sehari-hari jika tidak ada undangan buka bersama dan tarawih dari para jamaah umroh, saya pasti di rumah bersama keluarga. Menyiapkan buka puasa maupun sahur, saya paling hobi menyiapkan dessert. Aneka kreasi puding buah atau wedang roti jadi favorit keluarga saya,” papar Vindy.

Sedangkan untuk lebaran, Vindy dan keluarga juga ikut mudik. “Kali ini kami akan mudik ke Purworejo, bergantian tiap tahun antara Purworejo atau Pati. Liburan lebaran bersama keluarga, selain silaturahmi dengan family yang jarang bertemu, juga menyenangkan anak semata wayang saya untuk explore tempat wisata di berbagai kota, yang sehari-hari kami orang tuanya terlalu sibuk,” tambahnya.

Komentar kedua dari Yulistra Ivo, Marketing Communications Gumaya Tower Hotel Semarang. Untuk bulan puasa Ivo memiliki kebiasan untuk lebih banyak waktu dengan keluarga. “Tradisi selama puasa sebisa mungkin spending more time bareng keluarga. Untuk buka puasa ataupun tarawih berjamaah terus at least once a week. Atau kalau ngga pas sibuk semua bisa full seminggu hehe… dengan keluarga menyiapkan buka bersama dengan anak anak yatim,” jelas Ivo.

Sedangkan untuk Lebaran, Ivo dan keluarga memiliki tradisi untuk membuat menu makanan sendiri. “Kalau untuk Lebaran walaupun sekarang serba praktis bisa beli, tapi kita sekeluarga masih bikin ketupat sendiri dan masak opor ayam untuk open house saat lebaran. Selain itu, biasa kita silaturahmi ke keluarga, tetangga dan kerabat and next day mudik ke Solo,” imbuhnya.

Komentar ketiga dari Atiti Swandya, Marketing Communications Bowery Semarang. Menurutnya, untuk Bulan Ramadan dan Lebaran nanti tempatnya bekerja juga menyiapkan paket khusus, karena sebagian besar masyarakat Semarang menjalankannya. “Kami menghadirkan promo menu paket Ramadan di Bowery maupun di The Tavern. Selain itu untuk acara yang digelar bersama, kami juga menghadirkan menu paket penggunaan function hall untuk buka bersama dalam sekala besar, serta untuk halal bihalal,” ungkap Atiti.

Bagaimana dengan tradisi saat Puasa dan Lebaran, Anda?

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply