Sharing Profit

0

Saya yakin cukup banyak di antara anda yang sudah pernah merasakan naik taxi online berbasis aplikasi dan cenderung memilih layanan ini dibanding taxi konvensional, karena harganya lebih murah. Populernya moda angkutan ini bahkan merusak laporan laba/rugi berbagai perusahaan taxi. Di mana letak kesetiaan pelanggan? Mana fanatisme pelanggan atas merk taxi tertentu?

Taxi konvensional dan taxi online bersaing di bisnis model yang sama sekali berbeda. Perbedaan bisnis model ini juga membuat perbedaan infrastruktur hingga perbedaan potensi bisnisnya. Taxi konvensional tentu perlu melakukan pengadaan armada, termasuk peremajaan armada bila sudah dianggap tua, dan investasinya tidak sedikit. Setelah itu masih harus melakukan perawatan berkala agar armada tersebut tetap dalam kondisi baik. Bahkan bensin masih ikut ditanggung oleh perusahaan. Taxi online tidak perlu melakukan pengadaan armada sama sekali, karena memang tidak memiliki armada sama sekali.

Kedua jenis taxi tetap harus melakukan pengadaan pengemudi, namun berbeda sifat. Pengemudi di taxi konvensional berstatus karyawan yang terikat dengan perusahaan, sehingga perusahaan harus memberikan gaji dan berbagai tunjangan, lengkap dengan fasilitas kesejahteraan seperti BPJS dan THR, terlepas dari situasi bisnisnya, tidak peduli pesanannya banyak atau tidak, tidak terkait dengan naik-turunnya omzet. Ini menjadi biaya tetap untuk perusahaan.

Di taxi online, pengemudi tetap harus mendaftar dan diprofil, namun prosedurnya tentu lebih sederhana karena pengemudi taxi online bukan karyawan, melainkan mitra. Mereka bertanggung jawab atas armada yang dianggap milik mereka sendiri, dan harus melakukan perawatan atas kendaraan mereka dengan biaya mereka sendiri. Mereka tidak menerima gaji, melainkan menerima bagi hasil yang benar-benar terkait dengan omzet yang mereka hasilkan. Bila tidak bekerja hari itu, tentu mereka tidak mendapatkan hasil. Bila bekerja sekadarnya, maka hasilnya pun sekadarnya. Untuk perusahaan, mereka tidak perlu pusing dengan BPJS dan THR. Mereka cukup agak royal berbagi hasil, maka pengemudi pun bahagia.

Beberapa taxi konvensional ikut membuat aplikasi untuk ponsel agar bisa digunakan pelanggan dengan kemudahan seperti memanggil taxi online. Namun sekali lagi ini adalah perbedaan model bisnis, bukan mengenai aplikasi. Aplikasi di sini hanya sarana untuk berkomunikasi dengan pelanggan dan mendapatkan pesanan. Bentuk model bisnis tetap saja masih beda, sehingga investasinya juga berbeda.

Membuat aplikasi perlu investasi, dan kedua model taxi sama-sama harus berinvestasi di sini. Namun taxi online benar-benar hanya mengandalkan aplikasi, sementara taxi konvensional masih tetap harus memiliki call center dengan timnya sendiri, dan ini merupakan biaya tetap. Bila ternyata tidak banyak yang menelpon untuk memesan taxi, gaji petugas call center tetap berjalan seperti biasa.

Sekali waktu saya memesan taxi online melalui aplikasi, ternyata yang datang adalah taxi konvensional. Khusus untuk kasus ini, telah terjadi kerjasama antara kedua perusahaan, sehingga bila tidak mendapatkan armada biasa yang dekat dengan pelanggan, sistem secara otomatis memberi referensi pada taxi konvensional untuk menjemput penumpang ini dan dibayar sesuai dengan harga yang tercantum di aplikasi, walaupun argo tetap jalan namun akan diabaikan oleh penumpang. Menurut pengemudi taxi tersebut, 80% omzet sekarang berasal dari panggilan taxi online yang tersambung kepadanya. Dengan kata lain, peran call center menjadi jauh lebih kecil dan pelanggan makin jarang naik taxi langsung di jalan tanpa memesan.

Ini menunjukkan dahsyatnya aplikasi, karena pengguna smartphone semakin banyak. Telpon konvensional makin ditinggalkan. Kapan terakhir kali anda menggunakan telpon rumah? Bahkan telpon pun digeser oleh ponsel, dan bertelpon pun tidak lagi harus dengan pulsa, cukup dengan layanan chatting yang memiliki fitur telpon, baik voice maupun video, maka pembicaraan sudah terjadi.

Dengan perbedaan infrastruktur yang berakibat pada perbedaan signifikan untuk investasinya, maka taxi online bisa memasang tarif lebih murah. Oke, saat ini pemerintah menerbitkan regulasi untuk mengatur tarif batas bawah dan atas. Angkanya masih tetap lebih murah dibandingkan dengan taxi konvensional, namun sudah lebih mahal dibanding saat belum diregulasi.

Taxi online pun tidak hilang akal. Berbagai voucher dan program pemasaran pun diluncurkan, sehingga pelanggan bisa mendapatkan diskon menarik. Saya pernah pulang pergi dari rumah menuju mall biayanya sangat sepele. Tentu voucher ada batasnya, dan kalau melulu naik taxi online juga akhirnya harus bayar cukup signifikan.

Strategi pemasaran kedua jenis perusahaan ini beda. Taxi konvensional sekarang tidak banyak beriklan. Strategi pemasaran memang tidak harus iklan. Cukup dengan taxi mondar-mandir di jalan, hadir saat dibutuhkan oleh pelanggan, itu adalah bentuk iklan yang sangat baik. Taxi online tentu beda. Mondar-mandir tidak terlihat karena memang tidak ada identitas di mobilnya. Bagaimana mau kasih identitas kalau sebuah mobil bisa tergabung dalam armada beberapa taxi online sekaligus. Tentu saja harus mengandalkan media sosial, dan salah satu cara untuk viral di sosial adalah dengan bagi-bagi kupon diskon. Ketika ada pelanggan yang naik taxi online dan bisa sampai di tujuan dengan biaya sangat murah, bahkan gratis, tentu akan jadi topik cerita yang sangat menarik kepada teman-temannya.

Apa yang dicari oleh kedua jenis perusahaan ini? Profit? Iya dan tidak. Taxi konvensional jelas mencari profit, dan sejak berdiri memang demikian adanya. Taxi online berbeda. Sampai hari ini taxi online belum mendapatkan profit, karena biaya promosinya luar biasa besar. Kalau dihitung secara laba/rugi, pasti membingungkan. Pengemudi bisa mendapat bagian yang sangat besar dibanding dengan omzetnya. Misalnya mengantar penumpang sebanyak 10 trip akan mendapatkan bonus yang sangat menarik. Akibatnya jarak pendek jauh lebih diminati walau tidak semua perusahaan taxi online menginformasikan tujuan yang diminta pelanggan. Kalau laba/rugi kacau, pertanyaannya adalah bagaimana bisa profit dan apa yang sebenarnya dicari?

Aplikasi taxi online setelah memiliki banyak pengguna sangat potensial untuk mengundang bisnis lainnya. Banyak perusahaan yang menitipkan voucher diskon juga, mulai makanan, pakaian, salon, pijat dan apa pun juga, untuk ikut dinikmati oleh pelanggan taxi online, baik tanpa syarat maupun dengan syarat tertentu. Ini tentu bisa diolah menjadi sumber penghasilan, dan pasti akan jadi sumber penghasilan yang luar biasa.

Metode pembayaran juga ada yang menggunakan mekanisme dompet tersendiri. Dompet ini terisi belum tentu langsung dipakai, jadi ada dana yang mengendap. Endapan dana ini juga bisa menjadi uang, tinggal dihitung saja bunga harian berapa. Taxi konvensional tidak memiliki mekanisme ini, karena pelanggan rata-rata bayar tunai kepada pengemudi.

Untuk pelanggan, taxi online juga mengurangi kebutuhan untuk memiliki mobil sendiri, karena dalam hitungan bisnis, mobil tentu ada investasi awal yang akan turun nilainya (depresiasi), dan harus dirawat. Naik taxi online, sudah termasuk pengemudinya. Ini seperti kita menggaji supir hanya saat kita butuh saja. Selama perjalanan, dia menjadi driver yang sikapnya harus baik (untuk mengejar rating 5 bintang). Saat dijemput, kita bisa bilang bahwa kita sedang akan dijemput oleh “driver”. Kita tidak perlu pusing isi bensin dan merawat mobil. Tahu sendiri kan, merawat mobil ke bengkel butuh waktu lama.

Nilai kapitalisasi pasar kedua jenis bisnis pun berbeda perhitungannya. Taxi konvensional karena sudah ada sejak lama, bahkan ada yang sudah masuk bursa, tinggal lihat saja angkanya, itulah angka kapitalisasi pasarnya. Perusahaan taxi online masih baru, belum ada yang memenuhi syarat masuk bursa efek, sehingga kesempatan berinvestasi dalam perusahaan ini masih tertutup, hanya untuk pihak tertentu saja, yang tentu saja berduit tebal. Jangan kaget saat membaca berita perusahaan asing berinvestasi angka fantastis dalam perusahaan taxi online yang belum pernah membukukan laba sama sekali.

Bentuk model bisinis ini adalah sharing economy, di mana sebuah aset dipergunakan bersama-sama oleh banyak pelanggan, yang masing-masing membayar sepakainya. Secara investasi awal bagi pengguna layanan, tentu bagus, namun perlu diingat pula bahwa ada konsekuensi di tanggung jawab pelaksana layanan yang terkadang tidak berusaha memberi yang terbaik karena suatu alasan apa pun juga. Termasuk juga penumpang yang bisa jadi apa saja, walaupun risiko di sisi ini juga menimpa taxi konvensional.

Banyak bisnis yang bisa diadaptasikan menjadi bentuk sharing economy, namun saya perlu mengingatkan bahwa tidak semua bisnis cocok dibuat seperti ini. Sudah banyak perusahaan yang gagal mengadaptasi bentuk sharing economy, dan kegagalan di titik ini sangat fatal, mengingat ini adalah kegagalan model bisnis yang sudah berdampak pada investasi awal, maka mengganti model bisnis akan secara lengkap mengganti infrastruktur dan investasi awalnya.

Oleh karena itu pertimbangkan kembali masak-masak sebelum mengadaptasi model bisnis.

Evans Winata
Business Coach

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply