Saya Mengikhlaskannya

0

“Sebelum membantu orang lain, pastikan badanmu sehat dan tenagamu ekstra,” ujar si pria muda dengan seragam korporasi yang sederhana rapi, saat membuka paparannya di depan mahasiswa pasca sarjana sebuah universitas negeri. Beberapa peserta berdehem. Si pria tersenyum. “Saya tahu ada yang tidak setuju dengan pendapat ini. Tapi ini keyakinan saya”.

Lalu ia memaparkan berbagai kegiatan sosial yang telah dilakukan korporasinya di bidang sosial, olahraga, lingkungan, budaya, dan pendidikan. “Saya memilih membantu orang-orang atau institusi di dekat-dekat sini, di sekitar saya. Saya tidak mungkin membantu orang Ethiopia atau orang Syria atau mana itu yang jauh-jauh. Yang di dekat saya saja banyak yang menderita dan masih membutuhkan bantuan. Mungkin yang di Ethiopia sana lebih menderita, tapi yang di sini juga menderita…”

Saya manthuk-manthuk. Mufakat dengan pemikirannya yang praktis dan membumi.
“Yang penting saat membantu harus pakai nalar. Analisa data dan situasi selengkap-lengkapnya untuk menentukan prioritas strategi kerja…”

Lalu ia menceritakan bagaimana suatu daerah di Nusatenggara Timur mengalami masalah kematian bayi yang tinggi saat dilahirkan. Pemerintah Daerah sigap turun tangan. Bidan dididik dan ditambah, rumah sakit diperbaiki dan diperbarui, ibu-ibu diedukasi keselamatan melahirkan. Namun masalah tidak mereda. Angka kematian bayi tetap tinggi. Akhirnya setelah ditelisik dan ditelaah, ditanya dan didata, kematian bayi ternyata sering terjadi saat dalam perjalanan. Jarak antara rumah dan rumah sakit sangat jauh. Infrastruktur jalan jauh dari memadai. Ternyata yang dibutuhkan bukan infrastruktur medis, tapi infrastruktur transportasi.
Nalar dan data.

“Apa kunci sukses korporasi Anda?” seorang mahasiswa bertanya.
Si pria tersenyum.
“Apa, ya? Sederhana saja yang kami lakukan. Lakukan semuanya dengan wajar dan benar. Utang dibayar, jangan pernah ngemplang….”
Hmm, jleb! Halo-halo travel umrah.

“Saat ‘sakit’, tidak usah membantu dulu. Sehatkan badan, istirahat di rumah. Jangan sampai rencana bisnis terganggu kegiatan filantropi…”

Lalu ia memberi ilustrasi bagaimana saat keadaan darurat di dalam pesawat, masker oksigen harus dipasang ke diri sendiri dulu, baru bantu anak atau orang lain. Kuatkan diri dulu, sebelum membantu.

“Bapak telah melakukan banyak hal di bidang sosial, olahraga, lingkungan, budaya, dan pendidikan, tapi apa Bapak telah melakukan upaya-upaya untuk mengurangi perbedaan antara yang kaya dan miskin?” Sebuah pertanyaan tajam bernada sinis diajukan oleh seorang mahasiswi.

Si pria menatap si mahasiswi yang duduk di belakang dengan tatapan heran.
“Tadi sudah saya jelaskan, kami juga membantu SMK-SMK di bidang Animasi, Kuliner, Fashion, Nautika. Kami tidak memberi uang. Kami merenovasi sekolah, mendatangkan pengajar dari luar negeri, menyumbang mesin dan peralatan, sehingga Sekolah bisa menghasilkan lulusan terbaik dan berkualitas yang akan digaji tinggi di atas UMR. Ada yang digaji hingga empat juta, tujuh juta, bahkan dua belas juta per bulan…”

Si pria tersenyum sebelum meneruskan, “Bukankah itu upaya nyata mengurangi perbedaan kaya dan miskin? Dengan menaikkan pendapatan dan taraf hidup mereka?”
Saya mengangguk mantap dan bertepuk tangan dalam hati.

Apakah ada penyesalan jika yang dibantu tidak lagi mengingat?
“Saya mengikhlaskannya,” jawab si pria muda dengan enteng; tanpa beban, lalu ia menceritakan bagaimana berbagai upaya yang telah dilakukan korporasinya telah berhasil menurunkan ‘Gini Ratio’, indikator ketimpangan sosial, di kotanya ke angka 0.30. Padahal rerata Gini Ratio Nasional adalah 0.40. Makin tinggi Gini Ratio, makin tinggi ketimpangannya.
Jika yang dilakukan tepat manfaat, dampaknya nyata terasakan.

Di akhir paparan si pria muda berkata, “Kami ingin membantu Indonesia, menjadi negara digdaya, seutuhnya…” Suaranya lirih setengah berbisik.

Saat telah selesai dengan diri sendiri, bukan nama atau reputasi yang ingin diukir, bukan kebanggaan atau kemasyhuran yang ingin diraih, tapi kepuasan dan kebahagiaan hakiki – bisa berbuat dan bermanfaat bagi banyak orang lain.

Masih ada orang baik di negeri ini.

Harjanto Halim
Pengurus Perkoempoelan Sosial Boen Hian Tong

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply