Profit Zombie

0

Tahu zombie? Dalam Bahasa Inggris, sebutannya adalah “undead”. Berasal dari kata “dead” atau mati, tapi diberi awalan “un” yang artinya tidak. Tidak mati. Apakah artinya hidup? Iya, tapi bukan hidup dalam arti yang sebenarnya. Cukup banyak cerita-cerita hikayat seputar “the undead”. Ada yang mengisahkan karena minum darah unicorn, maka bisa hidup kekal dan tidak bisa mati. Ada yang bertransaksi dengan golongan setan dan menukarnya dengan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Supaya terus hidup, tidak bisa mati. Sepintas benar, tapi tidak benar.

Hidup sebagai “undead” bukanlah hidup yang sesungguhnya. Dalam hikayat, hidup seperti ini disebut hidup yang kosong, berada di dunia antara hidup dan mati, terus menggantung selamanya. Iya, selamanya, kekal, persis seperti keinginan pelakunya. Hidup kekal tidak bisa mati, tapi kekal menggantung, tidak mati namun juga tidak hidup.

Lalu apa hubungannya dengan bisnis?

Tanpa kita sadari, cukup banyak perusahaan yang sebenarnya berstatus zombie. Bagi pemilik perusahaan tersebut, mereka tentu menolak disebut zombie. Zombie beneran juga tidak mau disebut zombie, mereka juga akan menyangkal menjalani kehidupan kosong menggantung. Bisa-bisa yang memberitahu mereka malah dibunuh…

Perusahaan zombie tidak memiliki masa depan, tidak memilik visi, keuangannya tidak bagus. Perusahaan ini sebenarnya lebih baik mati, namun dipertahankan tetap hidup dengan segala cara. Tagihan dikemplang jadi hutang tak terbayar. Hutang kepada supplier, angkutan, gaji karyawan, bank, tukang, kontraktor. Laporan keuangan babak belur dalam segala aspek. Sorry, tidak ada profit jangka panjang di perusahaan zombie. Kepuasan karyawan sebenarnya juga tidak ada. Siapa yang senang dan bangga bekerja di perusahaan zombie? Banyak akan ingin keluar kalau ada pilihan. Mereka tidak keluar hanya karena tidak jelas bila keluar mau kerja di mana lagi. Usia mereka sudah tidak mendukung, keahlian sudah kadaluarsa. Sebelum perusahaan benar-benar tutup, mereka akan tetap bertahan. Lumayan, kalau tutup, bisa dapat pesangon.

Penyebab perusahaan menjadi zombie sangat banyak, meliputi faktor internal (kesalahan dalam manajemen) sampai eksternal (kalah bersaing dan/atau gagal beradaptasi terhadap perubahan situasi). Hebatnya, reaksi awal dari pihak perusahaan biasanya adalah: penyangkalan (denial)! Mereka akan menyangkal bahwa mereka punya masalah, terus berusaha meyakinkan diri dan orang lain bahwa mereka baik-baik saja. Apalagi bila didukung laporan keuangan yang masih menunjukkan profit.

Sekali lagi, tidak ada profit di perusahaan zombie. Bahkan bila laporan keuangannya menunjukkan profit sekalipun. Bahkan bila perusahaan tersebut masih tampak hebat.

Saat Nokia mulai ditinggalkan pelanggan untuk beralih ke Blackberry, apa reaksi Nokia? Tentu saja menyangkal, sambil menunjukkan omzet dan profit yang masih positif. Mereka masih meyakinkan semua orang bahwa mereka tetap diminati oleh pengguna ponsel. Demikian pula dengan Blackberry saat mulai kalah dengan iPhone dan Android, mereka tetap menyangkal dan berusaha menunjukkan omzet dan profit yang positif. Ya, kedua perusahaan ini memang masih menunjukkan profit pada saat mereka sudah kalah bersaing. Sekali lagi, profit zombie sebenarnya sudah tidak ada profit, hanya masih tampak seperti punya profit. Seperti kehidupan yang sudah tidak ada dan ngotot dipertahankan, menjadi hidup yang tidak sepenuhnya hidup.

Hebatnya, kedua perusahaan tersebut masih tetap memiliki profit positif walaupun sudah menjadi zombie, sehingga pimpinan puncak tetap bersikeras bahwa mereka baik-baik saja. Apakah zombie bisa mati? Bisa. Kalau dalam cerita, zombie bisa dibakar dan akan benar-benar mati. Ada yang memisahkan nyawa menjadi horcrux, dan baru mati bila semua horcrux-nya sudah dihancurkan. Intinya, zombie tetap akhirnya bisa mati juga.

Setelah sibuk menyangkal, akhirnya Nokia dan Blackberry melihat apa yang ditakutkan: profitnya hilang dan angka negatif bermunculan di laporan keuangan mereka. Kemudian mereka melakukan penyelamatan yang sudah terlambat dan tidak berguna. Nokia kemudian merilis ponsel 2 kartu yang sebelumnya sibuk mereka tolak, mereka membuat ponsel pintar dengan berbagai sistem yang sebenarnya tidak laku, yaitu Symbian dan Windows Phone. Blackberry kemudian belajar membuat layar sentuh, menghilangkan keyboard yang menjadi ciri khas ponsel Blackberry, namun layar sentuhnya tidak enak dipakai dan sistemnya tetap saja lambat. Blackberry mencoba membuat kesan melompat jauh ke depan, membuat sistem BB10. Namun pembuatannya sangat lambat dan saat rilis ternyata tetap tidak enak digunakan, dukungan dari pengembang aplikasi sangat minimal.

Saat sebuah perusahaan sudah diberi label “hendak mati”, dan pimpinannya memberi penyangkalan atau sanggahan, pada dasarnya perusahaan itu memang hendak mati. Apalagi bila terbukti produknya sudah tidak diminati lagi di pasaran, kalah dalam segala aspek dari para pesaingnya. Buat Apple, sudah bukan profit zombie lagi. Sudah bertahun-tahun Apple tidak melihat profit di laporannya. Hidupnya yang sudah menjadi zombie, karena tanpa hutang, Apple saat itu sudah mati. Dan Apple menjelang benar-benar mati, saat hampir tidak bisa membayar seluruh kewajibannya lagi.

Penyelamatannya tidak mudah. Perubahan yang dilakukan sangat drastis. Apple pernah berada di tahap ini, saat masa depannya tidak jelas. Mencari CEO saja kesulitan, karena tidak ada yang berminat menjadi CEO saat Apple akhirnya benar-benar mati, karena akan merusak reputasi orang tersebut. Saran yang diterima Apple saat itu adalah: tutup saja dan kembalikan uang pemegang saham. Steve Jobs yang tampil sebagai penyelamat.

Lini produk dirancang ulang dan disederhanakan. Produk lama stop semua, ganti produk baru. Industri komputer dan laptop kurang menjanjikan, Apple masuk ke bisnis elektronik dengan produk pemutar musik iPod. Namanya diganti, dari Apple Computer Inc menjadi Apple Inc, logo disederhanakan dari yang warna pelangi menjadi 1 warna saja: filosofi kesederhanaan. Hutang lama direnegosiasi, jual visi Steve Jobs untuk mendapatkan hutang baru dari Bill Gates, dan banyak lagi strategi yang dilakukan sekaligus.

Apple sangat beruntung, putar balik nasib menunjukkan hasil positif hanya dalam waktu singkat, dari rugi besar menjadi profit walau sedikit. Sejak saat itu Apple selalu untung makin besar, dan hari ini menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, juga dengan omzet maupun profit terbesar dalam dunia korporasi.

Pengorbanannya tidak sedikit, selalu harus ada yang mati. Zombie hanya bisa hilang bersama kematian. Di kasus Apple, perusahaan yang lama pada prinsipnya sudah hilang. CEO lama dipecat, lini produk diganti semua, nama perusahaan diganti, logo diganti. Visi lama juga hilang diganti visi baru dari Steve Jobs.

Visi inilah nyawa baru yang diperlukan untuk mendapatkan hidup baru. Bukan sosok CEO baru, produk baru, gedung baru, logo baru, nama baru, namun visi baru yang paling dibutuhkan oleh perusahaan zombie untuk kembali memiliki hidup. Visi yang sudah menjadi zombie harus dilenyapkan. Bila visi ini tidak bisa lenyap, maka CEO yang terus memegang visi zombie ini yang harus diganti. Pergantian visi secara otomatis akan mengganti hal-hal lainnya: lini produk, budaya, bahkan nama dan logo.

Nokia mengganti visi dengan menjual divisi ponsel kepada Microsoft, untuk fokus pada bisnis lain. Sistem Symbian hilang, dan berganti Android. Blackberry harus mengganti CEO, fasilitas produksi ponsel dijual dan produknya di-outsource ke Foxconn, fokus diarahkan ke software dan layanan yang lebih menguntungkan, BBM dipisahkan dari induk menjadi perusahaan tersendiri. BB10 dimatikan untuk mematikan zombie-nya.

Kodak berstatus pailit dulu, sebelum bangkit lagi sebagai bisnis baru, walaupun memiliki nama yang sama namun segala hal lainnya sudah berubah. Status pailit ibarat api yang membakar dan mematikan zombie. Sebenarnya justru positif, untuk memaksa perubahan drastis, bila hidup lagi agar benar-benar hidup yang sebenarnya, bukan hidup yang semu. Kalau tidak mendingan mati saja sekalian, nanti pemilik tinggal memulai bisnis yang benar-benar baru.

Untuk pemilik bisnis, bila masih melihat profit, jangan senang dulu. Bisnis tidak dinilai hanya dari profit, tapi masih banyak variabel lain yang perlu diperhatikan. Bila ada yang menginformasikan bahwa bisnis ini sudah hampir mati, sudah jadi zombie, jangan terburu-buru memusuhi orang itu. Itu adalah informasi gratis yang sangat berharga dan mahal. Renungkan dulu informasinya, dan bila ada yang perlu dilakukan, lakukan sebelum terlambat.

Perusahaan mati tidak tiba-tiba. Selalu ada gejala, dan bila gejala masih ringan, lebih baik secepatnya mengambil tindakan sebelum menjadi berat dan zombie. Saat sudah jadi zombie, segala-galanya jadi mahal atau malah mustahil untuk meneruskan hidup. Saya kembali mengingatkan, profit zombie sebenarnya tidak ada profit, hanya sepintas tampak seperti ada profit, dan bila tidak ada tindakan signifikan, maka profit tersebut akan benar-benar hilang dan perusahaannya yang menjadi zombie. Dibiarkan terus, perusahaannya akan hilang ditelan oleh situasi.

Evans Winata
Business Coach

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply