Profit Tanpa Tunai

0

Dalam beberapa tahun belakangan ini, pola bisnis dan pola hidup masyarakat berubah drastis. Model bisnis baru bermunculan, bahkan tidak sedikit yang mengagetkan pebisnis yang lebih mapan, bisa karena bisnisnya terganggu, bisa juga karena sebelumnya tidak tahu ada bisnis model begini sambil bertanya kok bisa ya.

Semua diawali dengan 4 kekuatan utama di bidang teknologi yang menyentuh masyarakat di segala lapisan, yaitu mobile, cloud, social dan big data. Ponsel pintar sekarang bisa dimiliki siapa pun mengingat harganya sudah sangat terjangkau oleh siapa pun. Artinya, sekarang semua orang memiliki akses ke aplikasi messaging modern dan dapat men-download apps seperti teman-temannya, ikut serta sebagai pengguna dan meningkatkan kebergunaan apps tersebut karena penggunanya sudah lebih banyak. Informasi jauh lebih cepat menyebar karena social media dan messaging modern yang mampu mengirimkan informasi multimedia dengan cepat dan biayanya bisa sangat murah, bahkan gratis kalau bisa “pinjam wifi sebentar”.

Kita lihat dalam beberapa tahun belakangan apps buatan anak negeri menjamur sangat banyak dengan kreativitas masing-masing dalam segala bidang kehidupan. Termasuk di antaranya menyentuh dan mengubah pola masyarakat dalam mempergunakan uang.

Cukup banyak nasabah bank yang lupa mencetak bukunya, dengan transaksi terakhir di buku sudah lebih dari setahun yang lalu. Mereka bahkan makin jarang ke bank, dan antrian di bank pun berkurang jauh. Sebuah survey menunjukkan bahwa 75% interaksi nasabah dengan bank terjadi di ATM, ponsel dan Internet, bukan di kantor cabang.

Terjadi trend baru, yaitu fintech, mengenai cara pembayaran baru yang lebih modern tanpa menggunakan uang tunai. Banyak bank yang membangun produk fintech-nya, karena tentu saja mereka memiliki keunggulan tersendiri sebagai bank, dan dengan harapan untuk menjaga relevansi mereka di bisnis keuangan. Bank besar tentu punya keunggulan tersendiri dibanding bank yang lebih kecil, namun bank yang lebih kecil juga melihat ukuran bisnis bukan penentu utama, mereka melihat kesempatan untuk bisa menyalip di tikungan.

Bahkan yang bukan bank pun ikut membangun bisnis fintech, dengan mengandalkan basis konsumen mereka yang sudah dianggap besar. Berbagai provider telekomunikasi, marketplace online sampai alat transportasi online juga mengembangkan sarana alat pembayaran non-tunai, sehingga sekarang OJK tidak hanya mengawasi lembaga keuangan baik bank maupun non-bank, namun juga bisnis-bisnis lain yang ternyata sudah ikut-ikutan mengembangkan fintech.

Sebenarnya fintech meliputi apa saja? Selama itu adalah teknologi dan terkait dengan keuangan, maka itulah fintech. Fintech tidak selalu mengenai pola menyimpan dana berbentuk saldo untuk belanja di perusahaan tersebut seperti marketplace, provider telekomunikasi atau lainnya, tapi bisa juga berupa alat maupun cara pembayaran atau layanan finansial lainnya termasuk peer-to-peer lending (peminjaman 2 pihak secara langsung yang dimediasi oleh perusahaan fintech tersebut).

Industri perbankan pasti sedang berpikir keras untuk mencari pola bentuk yang baru dari kemajuan teknologi ini. Untuk yang bukan berada di industri perbankan, tentu pertanyaannya berbeda. Apa manfaat buat para pebisnis sekalian?

Melalui artikel ini saya sambil berbagi beberapa pandangan yang semoga bisa menjadi inspirasi para pebisnis sekalian.

Banyak rumah makan berbagai skala, mulai besar sampai depot kecil, ikut merasakan nikmatnya rejeki dari kemajuan teknologi, karena tiba-tiba produk mereka ikut teriklankan melalui platform layanan antar berbasis online. Buat layanan antar berbasis online, pengiriman makanan merupakan fungsi yang sengaja ditonjolkan agar muncul kebutuhan akan pengantaran, dalam bentuk pengantaran makanan, yang ternyata sangat digemari masyarakat Indonesia. Bisnis kuliner tetap sangat menjanjikan selama cita rasanya sesuai dengan harapan masyarakat.

Ada perusahaan fintech yang menyediakan layanan berbentuk kode khusus di rumah makan tersebut agar bisa menerima pembayaran melalui aplikasi dompet digital, sehingga transaksi ini terjadi tanpa melibatkan uang tunai. Bahkan ada perusahaan yang menyediakan semacam alat pembaca kartu kredit, yang mana alat ini bukan berasal dari bank, namun dananya valid dan dapat dibayarkan dalam jangka waktu tertentu. Alat ini tentu memangkas birokrasi yang mungkin dianggap lebih rumit saat memintanya dari bank atau alasan lain yang membuat alat ini mungkin lebih menarik dari mesin EDC dari bank.

Ada aplikasi messaging yang juga sudah mendukung transfer dana ke teman anda yang tercantum dalam daftar kontak. Dengan fasilitas ini, sangat memungkinkan pembelian makanan di depot sampai restoran tidak perlu melibatkan uang tunai, cukup transfer saja melalui aplikasi selama kedua belah pihak adalah penggunanya. Sepintas akan tampak keren dan modern saat sebuah depot mengumumkan bahwa mereka menerima pembayaran melalui aplikasi tersebut yang sedang trend. Atau melalui aplikasi tersebut, produk bisa ditawarkan melalui broadcast dan bagi yang berminat, pembayaran bisa langsung dilakukan di dalam aplikasi tersebut sebagai bentuk pembelian dan baru kemudian barang dikirimkan.

Untuk melakukan pemindahan dana tentu ada konsep saldo yang berlaku bagi kedua belah pihak, di mana melalui kedua saldo inilah dana berpindah tangan. Pencatatan saldo secara komputerisasi sepintas tampak sederhana, namun harus dipandang serius dari segi keamanan, karena ini ada kaitannya dengan uang. Pengamanan ini menghasilkan bisnis baru yang melibatkan talenta-talenta di bidang teknologi dan menghasilkan teknologi-teknologi baru di bidang pengamanan data yang sangat membantu dalam dunia teknologi secara umum, dan secara bisnis, ini memberikan kontribusi positif bagi semua pihak yang terlibat.

Konsep saldo ini bisa muncul di beberapa aplikasi dan bisnis, tidak hanya instant messaging. Secara alami, bisnis cenderung memilih bentuk non-tunai karena praktis. Bahkan perbankan pun kalau bisa memilih, inginnya lebih sedikit berurusan dengan tunai, karena repot. Perlu perhitungan walaupun sudah dibantu mesin, perlu pengamanan yang tidak sepele saat dipindahkan, perlu pengamanan yang ketat dan canggih saat disimpan, dan kertasnya masih bisa rusak dan diperlukan prosedur yang tidak sederhana saat hendak menggantinya dengan yang baru.

Suatu hari, saya menerima telpon dari sebuah bank, menginformasikan bahwa untuk ke depannya, layanan call center 24 jam ditiadakan, dan sebagai gantinya mereka menyarankan saya untuk men-download app atau berurusan dengan web untuk keperluan yang dulunya dilayani di call center. Call center adalah sentuhan teknologi telpon di perbankan, tapi sekarang sudah kuno dan ketinggalan jaman, dan sekarang diganti dengan sentuhan teknologi Internet. Efeknya sangat dahsyat. Dengan melayani aktivitas lewat call center saja, kantor cabang bank bisa jadi lebih kecil, layanan pelanggan diganti jajaran telpon yang tentu butuh tempat jauh lebih kecil. Begitu teknologi Internet masuk, bahkan call center itu pun hilang dan tidak perlu tempat sama sekali. Perbankan tiba-tiba hadir di ponsel nasabahnya.

Karena itu, kita bisa melihat ada konsep bank tanpa cabang atau cabang bank yang tidak ada manusianya sama sekali, hanya jajaran mesin ATM atau komputer berbagai bentuk untuk melayani nasabah, berlokasi di mall yang ramai. Investasi seperti ini tidak murah, namun operasionalnya jauh lebih ekonomis: hanya membayar uang sewa dan listriknya, tanpa karyawan. Pengamanan mengikuti pengamanan mall: dianggap cukup aman untuk meletakkan aset-aset seperti ini agar bisa melayani pengunjung mall. Layanan yang umum dibutuhkan nasabah sudah terlayani di sini: tarik dan setor tunai, transfer maupun pembayaran. Ke depan, kita akan melihat kantor cabang bank berkurang, atau bank tidak akan agresif menambah cabang.

Suatu saat saya berkunjungan ke sebuah perusahaan untuk sebuah layanan, dan saat hendak membayar, mereka mengatakan bahwa mereka tidak menerima uang tunai. Sebelum menyelesaikan transaksi, saya diminta untuk mentransfer pembayarannya terlebih dahulu. Ini strategi bagus dan aman, karena uang langsung berada di rekening perusahaan. Tidak perlu lagi ada proses menerima dan menghitung uang tunai, dan kemudian ada proses lagi penyetoran tunai ke bank yang harus antri dulu memakan waktu.

Tidak masalah uang berbentuk tunai atau non-tunai, yang penting menjadi profit, itulah yang terpenting untuk bisnis. Selamat datang di masa depan.

Evans Winata
Business Coach

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply