Produksi Profit Indonesia

0

Melanjutkan bahasan saya minggu lalu mengenai potensi profit pabrik di Indonesia, kali ini saya ingin memberikan gambaran lebih detail mengenai konkretnya potensi tersebut, bahkan bagaimana pabrik-pabrik di Indonesia bisa ikut mendapat profit besar dari bisnisnya.

Sejak 1980-an, saat Deng Xiaoping mencanangkan kebijakan pintu terbuka di Tiongkok dan mengijinkan rakyatnya berbisnis, mendadak banyak pabrik tumbuh di Tiongkok. Pabrik adalah salah satu cara cepat untuk memberi pekerjaan pada rakyat yang demikian banyak dan butuh makan. Dibayar murah tidak masalah, kualitas kerja jangan tanya, setidaknya rakyat dapat makan. Dengan demikian, Tiongkok menjadi pabrik dunia dengan biaya produksi yang murah, karena buruhnya dibayar murah. Ekonomi langsung bergeser ke Tiongkok, membawa Tiongkok menjadi ekonomi nomor 2 (banyak juga yang menyebut nomor 1, tergantung parameter yang digunakan) terbesar di dunia dalam 20-30 tahun.

Jadi sebenarnya buruh murah dibutuhkan untuk meningkatkan perekonomian, karena buruh murah bisa menurunkan biaya produksi, membuat harga produk menjadi lebih murah dan membuka peluang untuk ekspor. Persis inilah yang dimanfaatkan Tiongkok dengan baik.

Di sisi wirausaha, banyak orang yang sebelumnya miskin, dalam kurang dari 10-20 tahun, banyak yang sudah membawa kartu nama dengan jabatan “CEO” dengan badan usaha resmi, menghasilkan produk yang diekspor ke berbagai negara. Apa rahasianya?

Sederhana saja. Tiongkok mendadak menjadi pusat produksi dunia. Hampir segala macam barang bisa diproduksi, kecuali yang terlalu high-tech. Banyak pembeli dari seluruh negara di dunia mengunjungi Tiongkok untuk membeli barang. Permintaan sangat besar. Tentu didukung pula oleh pemerintah yang membuat infrastruktur industri menjadi jauh lebih baik. Produksi suku cadang yang umum ditangani oleh pemerintah secara terpusat, sehingga dengan volume produksi yang besar, harga jadi murah. Jalan tol sangat membantu logistik, kapal kontainer dan pelabuhannya diperbanyak. Ini membuat Tiongkok memiliki infrastruktur yang sangat kuat, dan ongkos produksinya sulit dipercaya murahnya, ditambah dengan kekuatan logistik yang memungkinkan pengiriman jarak jauh juga dengan biaya murah, barang buatan Tiongkok tersebar ke seluruh dunia dan masih lebih murah dibandingkan kalau barang tersebut diproduksi secara lokal.

Banyak kota mendadak jadi kota industri, bahkan kota kecil sekalipun. Geografis Tiongkok yang didominasi daratan mempermudah distribusi spesialisasi. Jadi sebuah kota kecil bisa memiliki ribuan pabrik dengan komoditas yang sama. Ini menyebabkan persaingan, namun tidak terlalu dipusingkan karena permintaan sangat besar. Bagi pembeli, ini sangat mudah, karena cukup datang ke sebuah kota saja untuk kategori komoditas tertentu, tawar, beli. Bayangkan bila pembeli harus studi banding ke banyak kota yang jaraknya berjauhan.

Karena latar belakang industri yang dimulai dari permintaan tinggi, tugasnya sederhana: buat barang. Ini bukan bisnis. Mereka hanya menjalankan instruksi untuk berproduksi, membuatkan barang, untuk masuk dalam rantai pasok yang lebih besar. Mereka hanya menjadi alat produksi yang kebetulan harganya menarik. Mereka tidak membangun aset sama sekali. Tidak ada brand atau merk yang dibangun. Mereka sibuk membangun merk untuk orang lain.

Mulai krisis ekonomi dunia 2008 lalu, kondisi ekonomi para pembeli yang didominasi Amerika dan Eropa mengalami penurunan, mendadak terjadi kebangkrutan masal di Tiongkok. Ratusan ribu pabrik bangkrut, karena tidak ada permintaan. Tidak ada pembeli yang minta dibuatkan barang, sehingga mereka jadi menganggur, persis seperti orang yang menganggur karena tidak ada pesanan barang dan tokonya sepi. Barang boleh lebih murah dibandingkan dengan orang lain, namun bila pembeli tidak memiliki kelonggaran finansial untuk mengkonsumsi, maka tidak terjadi transaksi.

Selain tidak membangun bisnis, mereka juga tidak membangun saluran pemasaran sama sekali. Sebelumnya mereka cukup duduk diam dan pembeli yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia. Tiba-tiba aliran pembeli ini macet, seperti dulu toko yang ramai dikunjungi pengunjung dan mendadak tidak ada yang datang mampir ke toko, lalu mau jualan apa?

Bayangkan bila banyak industri sejenis berada di kota yang sama, berdampingan satu sama lain, yang merupakan pesaing semuanya, dan bersama-sama tidak mendapat aliran pengunjung. Itu bukan saja bersaing dengan saudara sebangsa, tapi bahkan sekampung! Maka bila ada segelintir pengunjung baru melihat-lihat barang, tentu semua berebut dengan sengitnya, berharap mendapat order, dan masih banyak yang harus bersama-sama gigit jari karena calon pembeli yang dikerubuti banyak penjual akan merasa risih dan tidak jadi beli. Para penjual sekampung ini menurunkan harga untuk bersaing keras, dan bersama-sama mereka menghadapi pesaing berat dari negara lain yang baru berkembang dengan buruh yang sekarang lebih murah: Vietnam, Kamboja, Myanmar di Asia Tenggara maupun dari Amerika, Mexico dan Brazil yang mulai naik daun sebagai tempat berproduksi.

Indonesia beruntung dengan pertumbuhan infrastruktur yang baik dan sanggup menjaga pertumbuhan ekonomi di 3 besar sampai saat ini. Saat ini biaya produksi di Indonesia mendadak tampak murah. Banyak barang dari Tiongkok kesulitan masuk ke pasar Indonesia saat sudah banyak pabrik serupa di Indonesia, karena harganya tidak jauh lebih murah, tidak jauh berbeda dengan harga di Indonesia, sementara mereka masih harus menanggung ongkos kirim, bahkan ada bea masuk yang harus dibayar untuk komoditas tertentu dengan besaran yang beraneka ragam. Indonesia sukses menjaga industri dalam negerinya, dan penghalang untuk impor barang perlahan makin tinggi untuk komoditas yang sudah banyak diproduksi di Indonesia.

Untuk pebisnis di Indonesia, sebenarnya secara umum situasinya mulai menguntungkan dibandingkan dengan Tiongkok. Di Tiongkok, sekali lagi, dulu tidak perlu pandai berbisnis untuk berhasil. Banyak sekali orang yang tidak mengerti bisnis, tidak tahu cara membuat laporan keuangan, tidak mengerti pajak, tidak mengerti birokrasi dan dokumentasi, mendadak tetap bisa kaya. Apa pandangan mereka tentang sukses bisnis? Yaitu bahwa siapa pun bisa sukses dengan mudah dan tidak perlu kepandaian bisnis yang rumit-rumit. Istilah-istilah bisnis mereka sama sekali tidak paham dan mereka meremehkan karena dianggap tidak perlu paham hal-hal begitu untuk bisa berhasil.

Di Indonesia, pengusaha harus pandai untuk bisa berhasil. Pengusaha sudah dari awal terkondisi bahwa memang harus membangun bisnis, membangun merk, membangun saluran penjualan, bukan hanya duduk diam di rumah yang kemudian dijadikan kantor lalu pembeli datang sendiri. Mereka harus aktif mencari pembeli, mendatangi prospek, bahkan ditolak berkali-kali untuk mendapatkan penjualan. Pajak makin ketat, tidak sembarang bisa mengarang laporan keuangan. Manajemen keuangan harus baik, karena mereka tidak berada dalam posisi mewah yang bisa sembarangan pakai uang dan tetap punya uang. Margin sudah terbiasa dibandingkan dengan orang lain, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Harga jual sulit naik, namun biaya cenderung naik terus setiap tahun, buruh sulit diatur dan berisiko menambah biaya dalam proses produksi. Daya juang sudah terbentuk. Untuk bisa mendirikan pabrik yang berhasil, sudah pasti harus memiliki kemampuan untuk mengelola pabrik. Pemiliknya harus memiliki pendidikan yang cukup tinggi dan mempekerjakan karyawan yang memiliki kualifikasi pendidikan yang mumpuni untuk bisa menjalankan operasional pabrik dan berhasil meraih profit.

Sekarang saat persaingan internasional makin terbuka, pengusaha Indonesia sudah terbiasa dengan situasi ini. Mau ekspor, dari dulu memang bukan perkara mudah dan harus bersaing dengan berbagai negara yang biaya produksinya murah. Mau impor juga harus melewati prosedur yang tidak sederhana atau membayar pihak ketiga yang membantu menguruskan dan ini tidak murah. Sekarang bahkan impor borongan sudah dilarang, pajak makin ketat, maka pengusaha wajib mengurus sendiri proses impor dan ekspor.

Dengan letak geografis yang mendukung, Indonesia memiliki potensi untuk berhasil di bidang manufaktur selama dikerjakan dengan baik. Pembangunan saat ini sangat menekankan di bidang infrastruktur, termasuk infrastruktur logistik, transportasi dan perijinan, yang sangat mengurangi biaya bisnis.

Bila ada rekan-rekan yang bertanya mengenai peluang bisnis manufaktur di Indonesia dan situasi persaingan terhadap negara-negara lain termasuk Tiongkok, saya akan menjawab bahwa Indonesia sudah memiliki apa yang diperlukan untuk bisa berhasil. Keadaan sudah sangat mendukung untuk Indonesia, dengan pertumbuhan ekonomis yang terus-menerus positif tinggi selama beberapa tahun terakhir ini, ibarat lokomotif yang sedang cepat, bukan untuk direm, tapi untuk terus digas.

Namun saya mengingatkan bahwa sekarang sudah abad 21, bukan lagi saatnya anak tidak sekolah bisa mendirikan pabrik yang dikerjakan secara asal-asalan kemudian bisa otomatis berhasil. Wajah industri sudah jauh berbeda, dan semua yang dibutuhkan sudah tersedia di Indonesia, terbuka untuk diakses oleh siapa saja, dan semua bisa memanfaatkannya untuk berhasil di bidang bisnis, termasuk bisnis manufaktur.

Mungkin anda tidak percaya bahwa perubahan yang terjadi sudah sedemikian besar, karena belum melihatnya secara langsung, namun bila perubahan itu sudah kasat mata, sebenarnya sudah terlambat.

Sekaranglah saatnya memulai dan menambah kecepatan.

Evans Winata
Business Coach

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply