Pedekate, Namun Bukan Menjilat

0

“The power of getting to know one another is so immense, eclipsed only by first to know ourselves.”
“Kehendak untuk saling mengenal satu sama lain begitu besar, hanya terkalahkan oleh kehendak untuk terlebih dulu mengenal diri kita masing-masing.” (Bryant McGill)

Siapapun kita, asal memang hidup pada zaman sekarang ini, pasti tak asing dengan istilah pedekate. Ini kependekan dari kata “pendekatan”, yang dalam percakapan informal kemudian disebut sebagai “PDKT” atau “pedekate”, sehingga seakan itu sudah menjadi satu kata tersendiri yang memiliki makna khusus dari kata aslinya.

Kalau yang kita sebut adalah “pendekatan”, maka itu diartikan sebagai upaya untuk menjadi lebih dekat dengan seseorang dalam konteks umum. Misal lebih dekat secara kedudukan geografis, lebih dekat dalam hal minat dan bakat, atau untuk mengambil hati. Sedang “pedekate” berarti upaya pengenalan dalam konteks asmara anak muda. Kita naksir seseorang, lalu kita berusaha dekat dengan si dia sehingga pada akhirnya nanti bersedia menjadi kekasih kita.

Trik pedekate dalam urusan ini biasanya cukup bervariasi. Sejak dari mencirikan diri kita sebagai pribadi yang elegan dan menempati suatu strata ekonomi yang cukup tinggi, selalu berkata-kata manis, dan siap sedia untuk membantu. Semua itu dilakukan dengan tujuan akhir untuk memberi kesan baik pada si dia, sehingga ketika kita menyatakan isi hati, dia akan menerima dengan tangan terbuka.

Yang jarang kita pikirkan adalah bahwa trik-trik pedekate sebenarnya terus bisa dipakai sepanjang hayat, meski seseorang sudah berkeluarga. Hanya karena kita sudah bersuami atau beristri tak lantas berarti keahlian dalam hal pedekate orang lain sudah tidak diperlukan. Tentu bukan lagi dalam urusan asmara, itu jadi sebuah “pelanggaran hukum” tentu saja, melainkan dalam bidang-bidang kehidupan lain.

Salah satunya adalah dalam soal dunia kerja, saat kita menjadi bagian dari sebuah lembaga, institusi, atau perusahaan sebagai pegawai atau karyawan. Tanpa skill pedekate yang memadai, bisa dipastikan karier kita tak akan berkembang. Jabatan kita selama belasan atau bahkan puluhan tahun akan mentok di level itu-itu saja. Kemampuan mendekati orang lain bisa menjadi kunci untuk membuka pintu kesuksesan dalam hal ini.

Ini wajar karena hasil pedekate dalam dunia kerja serupa dengan pedekate dalam asmara, yaitu agar hubungan kita dengan seseorang menjadi kian akrab dan dekat. Dan hubungan yang harmonis dengan para rekan kerja adalah sarana yang ampuh menuju kemajuan karier. Syaratnya cuma satu: tahu persis siapa-siapa saja yang harus didekati. Dan dalam dunia kerja, sosok-sosok yang menjadi penentu akselerasi jabatan dalam sebuah institusi atau pekerjaan adalah para atasan, baik atasan langsung di unit kita maupun atasan tertinggi suatu lembaga.

Jika kita bekerja sebagai karyawan bagian marketing misalnya, maka tokoh pertama yang harus didekati adalah atasan langsung kita. Setelah itu menyusul atasan-atasan pada jenjang berikutnya, hingga pucuk pimpinan seperti direktur cabang, presiden direktur, atau CEO. Normalnya, kesan baik dari satu pimpinan terhadap seorang anak buah akan menular pada pimpinan lainnya, sehingga nama sang karyawan akan dengan cepat mencuat dibanding para karyawan lain.

Sayangnya banyak di antara kita yang memahami ini secara salah, sebagai akibat pemikiran bahwa trik-trik pedekate sudah tak diperlukan lagi begitu sang target asmara sudah resmi dinikah. Kita ingin dekat dan disayang bos, namun terdorong menggunakan cara-cara gampangan, yaitu dengan menjilat dan bermental ”Yes Man”.

Kita kemudian selalu rajin menyanjung puji atasan, tak pernah henti berkata-kata merdu padanya, dan selalu memberikan laporan positif yang beraroma ABS alias Asal Bapak Senang. Berbagai poin negatif ditutupi, sehingga suasana hati atasan selalu baik, bila perlu dengan memanipulasi data laporan. Dan apa pun perkataan serta tindakan atasan senantiasa didukung, sekalipun itu salah.

Memang teknik ini akan dengan cepat mendatangkan apa yang kita mau, yaitu perasaan positif atasan terhadap kita. Pada gilirannya, atasan akan senang dan sayang pada kita, kemudian percaya. Dan jika atasan sudah percaya, maka akan sangat mudah baginya untuk menempatkan nama kita dalam urutan terdepan jenjang-jenjang promosi.

Masalahnya, hubungan dunia kerja yang dibangun dalam landasan kebohongan dan manipulasi pasti akan menghancurkan semua struktur bangunan. Kita masih ingat paham ABS yang dilakukan para pejabat era Orde Baru membuat negara nyaris hancur. Laporan yang sampai ke para atasan selalu bernada positif, karena borok-borok dan semua ketidakberesan yang terjadi di tingkatan akar rumput serba ditutup-tutupi. Akibatnya, ketika semua masalah tak tertangani, segala hal berubah menjadi potensi konflik yang berskala masif.

So, perlu disadari bahwa upaya mendekati atasan juga harus dilakukan sebagaimana kita pedekate gebetan, yaitu agar antara kita dan atasan bisa “jadian”, tentu dalam pengertian terjadi hubungan kerja yang erat dan harmonis. Dan triknya pun relatif sama persis dengan usaha pedekate terhadap calon pacar, yaitu citra diri yang baik dan sukses, kata-kata manis, serta kesiapan untuk selalu membantu dan mendampingi.

Kesuksesan citra diri berada pada cara kita berinteraksi dan membawa diri, termasuk dalam hal berpenampilan. Kepatuhan terhadap aturan kantor menjadi salah satu aspek pokok hal ini. Datang disiplin sepagi mungkin, selalu mengikuti aturan berbusana yang ditetapkan kantor, pulang tepat pada waktunya (jangan hobi pulang awal), dan mengatur sesedikit mungkin izin tidak masuk kantor hanya pada keadaan-keadaan yang sangat terpaksa.

Kata-kata manis tak berarti sama dengan sang Yes Man tadi, melainkan keterampilan dalam berbicara dan beretika. Dengan demikian, saat kita hendak membantah atau menyanggah perintah atasan yang tidak baik, kita dapat melakukannya dengan lembut tanpa menyinggung perasaan dan martabat atasan. Kesopanan yang elegan dan proporsional akan membuat kata-kata kita didengar, sehingga bahkan saat kita mengungkap ketidaksetujuan pun, atasan tetap dapat menerima dengan baik.

Dan yang terakhir, selalu stand by membantu dalam konteks kita menjadi pekerja yang reliable alias dapat diandalkan. Pada tahap-tahap awal bekerja di suatu kantor, ini cukup diartikan dulu sebagai bekerja ekstracepat. Apa pun tugas dari atasan, termasuk pekerjaan rutin sehari-hari, kerjakan dengan semangat ASAP atau as soon as possible.

Kejutkan atasan dengan kecepatan kerja kita. Yang harusnya dikerjakan dalam hitungan hari, selesaikan dalam beberapa jam. Yang harusnya dirampungkan dalam jam, tuntaskan dalam menit. Jika ini yang Anda lakukan, tak bakalan ada satu pun atasan di seluruh dunia yang tak terkesan. Kesan baik pasti akan menumbuhkan kepercayaan, bahwa Anda bisa diandalkan. Pada gilirannya, tugas-tugas sulit akan dibebankan pada Anda, dan ketika satu keberhasilan disusul keberhasilan lain, promosi jabatan bukan pertanyaan mengenai “andai”, melainkan “kapan”.

Tentu mengerjakan hal-hal secepat mungkin rawan dengan kesalahan. Berhubung penekanannya ada pada kecepatan, maka bisa saja kita kurang detail mengawasi setiap detail bagian tugas tersebut. But don’t worry! Lebih baik selesai dulu dan tersaji di depan atasan tapi masih mengandung kekurangan daripada Bos gerah menunggu hanya karena Anda terlalu njelimet dan mengutamakan kesempurnaan.

Saat kita sudah beradaptasi dengan ritme pekerjaan, dan tingkat kepandaian kita bertambah karena terus menangani tugas-tugas yang kian sulit, kita akan mengalami proses belajar yang konstruktif. Berdasar pengalaman, kita tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dan energi kreatif serta improvisasi terasah, sehingga kita dapat pula mengatasi masalah-masalah tak terduga yang tak ada dalam skenario serta prosedur operasional standar perusahaan.

Selain itu atasan juga akan senang membantu karyawan yang reliable dengan berbagi ilmu serta pengalaman. Saat satu tugas yang diselesaikan dengan cepat masih mengandung kekurangan, atasan akan membantu mengoreksi, sehingga pekerjaan-pekerjaan berikutnya akan bisa diselesaikan dengan lebih cekatan dan dengan hasil yang lebih positif.

Paduan antara citra diri yang positif, etika dan cara berkomunikasi yang baik, serta kehandalan dalam bekerja, adalah jalan bebas hambatan menuju pengakuan dari (para) atasan. Bahkan jika track record kita baik di mata mereka, tak tertutup kemungkinan kita “dipinjam” sementara untuk mengerjakan tugas-tugas bagian lain. Misal aslinya pegawai bagian HRD, kita diperintah oleh manajer marketing atau bahkan dimintai direktur utama untuk menjadi sekretaris darurat.

Dan tugas pekerjaan pada bidang-bidang berbeda akan menuntun kita menjadi seorang generalis, yaitu menjadi expert pada bidang kita, namun mengetahui serba sedikit tentang banyak hal. Dengan demikian, dalam batasan minimal sekadar dimintai pendapat atau diajak berdiskusi tentang segala hal, kita bisa mengikuti. Syukur-syukur bahkan bisa ikut membantu di tingkat lapangan.

Dan pribadi yang berjenis generalis adalah calon pemimpin pada masa depan, karena para CEO, para presiden direktur, dan para pemimpin politik adalah mereka-mereka yang mengetahui banyak hal dan menguasai banyak jenis keahlian.

Bonita DS
Direktur YPI Training Centre & Consultancy
Professional Trainer

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply