Papa Keren

0

Saya diminta memberi sambutan di acara ‘Parenting’, dimana papa-papa diundang untuk datang ke sekolah, mendampingi anak-anak mereka yang masih duduk di bangku TK. Mereka, papa dan anak, dikumpulkan di aula, diajak bermain bersama, mendengar testimoni anak-anak tentang mereka, nonton video tentang seorang papa, serta mendengarkan ulasan saya tentang bagaimana peran seorang papa.

Menurut saya acaranya bagus dan mengena. Saya terharu melihat bagaimana papa-papa di awal acara nampak canggung dan tengsin, tangan bersedekap atau dimasukkan kantong, pandangan dingin; namun setelah bermain beberapa saat, mereka mulai tertawa lepas, rela menanggalkan ‘harga diri’, bertepuk tangan dan bergoyang, ‘menikmati’ adegan yang tersaji di depan mata bersama anak-anak mereka.

“Ada ‘anak kecil’ yang masih terpendam dalam jiwa kita, yang tertimbun dan tertumpuk berbagai kesibukan kerja, hingga kini tak nampak lagi,” ujar saya.
Beberapa papa mendengar sambil mengelus rambut anaknya yang nglesot manja di atas pangkuannya.

“Tadi waktu melihat Anda, papa-papa, bermain dengan anak-anak, jujur, saya senang sekali… Saya melihat ‘anak-anak’ dalam jiwa anda muncul kembali… Apa yang barusan terjadi, adalah sebuah tindak kemanusiaan yang sederhana, sangat sublim, sangat halus… Bermain bersama, tak perlu kata-kata, tak perlu aksi lebai..”
Papa-papa menatap saya.

“Anda juga sudah melihat tayangan testimoni anak-anak tadi… Mereka dengan wajah riang bercerita, mereka sangat senang meski cuman diajak main bola, dibelikan sepeda, atau sekadar diajak jalan-jalan… Dengan tatapan lugu dan wajah polos serta mata berbinar, mereka mengucap, ‘Aku cayang papa…’, dengan lafal cadel-menggemaskan. Dan betapa hati ini trenyuh dan tersentuh. Dan betapa kita, sebagai orangtua, senantiasa berharap, kata-kata itu kan selalu terucap dari mulut mereka… Betul?”

Beberapa papa-papa mengangguk. Saya melihat beberapa guru mengusap airmata. Mungkin mereka teringat papanya sendiri, atau teringat suaminya, papa anak-anaknya.

“Merawat anak bagai naik kereta api… Pemandangan di luar jendela berganti-ganti cepat sekali… Orang-orang di sebelah kiri kanan bergantian, turun dan naik… Mungkin sekarang anak-anak masih mengharapkan kita pulang… Mungkin mereka masih berteriak riang melihat kita pulang, masih mengajak kita bermain-main… Tapi itu tak kan lama… Sebentar lagi, saat anak-anak tumbuh besar, ia akan bermain sendiri, atau dengan teman-temannya. Apalagi sekarang ada ipad dan gadget… Waktunya tidak akan lama… Nikmati momen-momen ini, jika ada waktu, ajak anak-anak bermain…”
Waktu berlalu cepat sekali.
Saya juga berkata, bahwa peran seorang papa sudah bergeser jauh dibanding jaman dulu. Dulu, papa adalah figur yang ditakuti, kaku dan keras. Jika seorang papa batuk atau berdehem keras, anak-anak akan ketakutan. Itu tandanya papa marah! Atau papa pulang kerja dengan wajah datar dan muka masam, anak-anak pilih menghindar. Itu tandanya bakal ada yang akan didamprat!
“Jaman sudah berubah, papa-papa bukan lagi figur kaku yang harus ditakuti, tapi harus mau menjadi pendamping, yang ikut mendidik dan menemani anak, harus bisa ganti pampers atau main bola atau main boneka…, meski harus tetap tegas dan tetap menegakkan aturan…”
Saya menebarkan pandangan ke sekeliling aula.

“Tapi yang terpenting, jangan hanya lakukan hal ini di sekolah saja. Teruskan hal ini di rumah. Karena pendidikan akan berhasil apabila apa yang telah diajarkan di sekolah, diteruskan di rumah. Saya tersenyum dan melanjutkan, “Saya berterimakasih bahwa Anda semua, papa-papa, mau menyempatkan diri datang ke sekolah… Anda tahu, anak-anak ternyata sangat ‘excited’. Mereka menunggu berhari-hari. Mereka bersemangat bahwa papanya akan ikut sekolah… Mereka menunggu saat ini. Tadi Anda telah bernyanyi, bermain, menari dan menemani anak-anak. Anda semua sungguh luar biasa! You’re COOL DADS!!! Anda PAPA KEREN!”
Semua bertepuktangan.

Menjadi papa yang baik bukan sekadar mengharap anak-anak berkata, “Aku sayang papa.” Prestasi terbesar seorang papa adalah saat anak-anak kita, jika dia laki-laki, akan berkata, “Kalau besar nanti aku ingin menjadi seperti papa.” Dan kalau anak perempuan, ia akan berkata, “Kalau besar nanti, aku ingin suamiku kayak papa.”

Itulah prestasi terhebat seorang papa. Bukan uang atau jabatan, tapi kekaguman seorang anak terhadap sosok papa yang bisa menjadi panutan. Papa yang keren.
Sudahkah kita menjadi papa yang keren? Saya menelan ludah. Sesungguhnya, mengulas lebih mudah ketimbang menjalani.
Betul?

Harjanto Halim
Pengurus Perkoempoelan Sosial Boen Hian Tong

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply