Pabrik Profit

0

Kalau hari ini buka pabrik, peluang berhasilnya gimana? Potensi pasar bagaimana?

Menyambung artikel saya bulan lalu, setelah era agraria yang bercocok tanam, dunia memasuki era industri, memproduksi berbagai barang sebanyak-banyaknya. Pabrik pun terus berkembang setelah James Watt menemukan mesin uap dan Henry Ford memperkenalkan sistem produksi berantai dengan ban berjalan. Era informasi justru memberi dukungan sangat besar pada sektor manufaktur untuk bisa lebih baik lagi dalam melakukan perencanaan aktivitas, pembelian dan penjualannya, walaupun akhirnya perusahaan yang bergerak di sektor informasi yang justru tampil lebih besar dibanding yang bergerak di sektor manufaktur.

Di abad 21 ini, seperti apa wajah industri sekarang? Ternyata sangat beraneka ragam, disebabkan karena perbedaan sumber daya uang dan pengetahuan dari pemiliknya. Jangan kaget masih banyak pebisnis hari ini di abad 21 di tahun 2017 masih memiliki pandangan mendirikan pabrik yang persis sama dengan era 1960-an, atau kalau agak modern sekitar era 1990-an.

Ternyata cukup banyak pemilik pabrik yang belum bisa membedakan antara membuat barang dengan menjalankan bisnis yang membuat barang tersebut. Banyak yang merasa tahu cara pembuatan suatu barang, menguasai pengetahuan tentang mesin dan teknik berproduksi, kemudian merasa sudah bisa mendirikan pabrik dan sukses. Ada seorang kenalan saya yang terpaksa harus menjual pabriknya karena merugi terus, dan bahkan itu pun kesulitan karena tidak pernah punya laporan keuangan. Akhirnya pilihannya hanya menjual aset, karena investor tentu tidak berani membeli perusahaan yang tidak memiliki laporan keuangan. Untuk pemilik pabrik seperti ini, mereka sangat tidak mengerti mengenai laporan keuangan. Ukuran profit hanya sebatas saldo di rekening, atau sudah menambah mobil dan properti. Kalau rugi ya pasti mobil dan propertinya berkurang.

Ini adalah kondisi umum awal era industri. Termasuk pendatang dari Tiongkok ke Indonesia, banyak yang mendirikan usaha pabrik dengan pola seperti ini. Apalagi orang Tiongkok memang punya bakat alam dalam berbisnis, terutama di bidang perdagangan dan industri. Tentu kita masih ingat ada Jalan Sutera (Silk Road) yang digagas untuk memperlancar perdagangan Tiongkok ke Eropa. Kita juga tahu, hari ini Tiongkok adalah pabriknya dunia dengan berbagai produk “Made in China” yang kualitasnya beraneka ragam, tergantung harga.

Sekarang Tiongkok kembali memberikan gagasan One Belt One Road (Sabuk dan Jalan) yang akan menghubungkan 2/3 penduduk dunia, dan Indonesia beruntung berada di dalam program ini. Inti program ini adalah untuk memperlancar perdagangan antar negara, kali ini melibatkan Tiongkok, Asia dan Eropa.

Setelah pabrik muncul dalam bentuk paling awal yang berfokus hanya ada proses produksinya saja, pemilik pabrik yang berpandangan lebih jauh mulai melakukan restrukturisasi dan reorganisasi pabriknya agar lebih modern dan profesional. Bahkan mereka membangun pabrik-pabrik tambahan untuk produk yang sama, tapi di lokasi berbeda. Yang paling penting, proses produksinya dimodernisasi secara signifikan untuk menekan biaya, karena sebagai produsen, biaya adalah salah satu keunggulan kunci yang harus mereka miliki dan membangun tembok penghalang bagi pendatang baru. Posisi mereka di pasar yang sudah cukup lama benar-benar dimanfaatkan untuk terus mengasah kekuatan mereka.

Jangan kaget bagi pendatang baru yang berencana untuk membuat produk yang sudah dikuasai oleh pemain lama seringkali menghadapi dilema: harga tidak lebih murah dan produk tidak lebih unggul. Yang lebih ekstrim lagi adalah harga pokok produksi pabrik kecil masih lebih mahal dari harga jual pabrik besar. Ini namanya bencana dan sekaligus pertanda bagi pemain baru untuk jangan masuk ke arena tersebut, kecuali mereka memiliki keunikan dan keunggulan yang signifikan dan sulit untuk ditiru pemain lama.

Sekali lagi, bagi pabrik, harga pokok produksi adalah salah satu kunci keunggulan utama. Pabrik yang paling berhasil adalah yang sanggup memproduksi barang bagus dengan modal rendah. Untuk bisa melakukan hal ini, teknologi cara produksi memainkan peran yang sangat penting. Mesin-mesin modern menjadi jawaban utama, bahkan robot sudah banyak terlibat. Investasi awalnya tinggi, sehingga tidak sembarang pebisnis bisa masuk, namun sekali diimplementasi, harga modal untuk setiap produknya jadi rendah sekali dengan tingkat kerusakan yang sangat kecil. Pemain baru yang mencoba-coba masuk dengan cara manual akan menghadapi dilema berat.

Selain mesin, struktur organisasi dan budaya perusahaan juga menjadi kunci keunggulan yang menekan biaya. Bukan dengan mengecilkan gaji, namun membuat alur instruksi dalam manajemen menjadi lebih pendek namun efektif. Bila di perusahaan kecil, instruksi masih didominasi oleh pemilik, di perusahaan besar alur instruksi sudah terdistribusi dan perusahaan bisa berjalan secara otomatis karena tidak ada dominasi instruksi dalam manajemen harian, kecuali untuk hal-hal strategis yang memang harus diputuskan oleh direksi yang juga tidak hanya seorang. Dengan demikian risiko bisnis jadi sangat kecil.

Latar belakang pengusaha pabrik cukup beragam, dengan pola pikir yang beragam. Aktivitasnya memang sama: memproduksi barang. Tapi pola pikirnya beda akan menimbulkan gaya bekerja yang berbeda pula.

Kalau berlatar belakang pedagang, hitungannya didominasi oleh persamaan: profit = omzet – biaya. Berarti omzet harus sebesar-besarnya sementara biaya harus minimal. Jadi pabriknya boleh asal jadi, yang penting bisa berproduksi. Barang menggunakan bahan yang semurah mungkin untuk kelas kualitas yang dipilih. Faktor lain yang boleh dikurangi ya harus dikurangi.

Efeknya, pabriknya tampak asal jadi, toilet di dalamnya pakai barang termurah dan airnya sering macet, mesin produksi pakai yang minimal, bahan pakai yang termurah yang penting bisa dipakai, pekerja dibayar semurah mungkin, kalau perlu outsourcing, tidak perlu BPJS, tidak perlu training karyawan, perlengkapan keselamatan boleh dikurangi, dilengkapi hanya saat audit, tidak perlu sertifikasi ISO atau lainnya, SNI hanya kalau terpaksa.

Kalau untuk infrastruktur begini sudah diminimalkan, jangan kaget infrastruktur bisnisnya akhirnya tidak terpikirkan. Program pemasaran? Tahunya hanya beriklan, pun seadanya. Efektivitas? Nasib deh. Tidak tahu cara mengukur. Peningkatan kualitas SDM? Tidak tahu, tidak ada dan mungkin tidak minat. Biaya mahal. Budaya perusahaan? Tidak kenal, menganggap tidak penting. Komputerisasi? Biasanya hanya untuk email menerima pesanan, mengetik dokumen pengganti mesin tik, itu saja. Sistem akuntansi belum tentu beli. Kalau bicara daya saing ke depan, biasanya menghindar dengan mengatakan bahwa bisnisnya ini sudah cukup kok, cukup untuk makan sekeluarga, jangan diutik-utik lagi.

Yang pola pikir lebih modern dan lengkap, akan memikirkan setiap aspek secara detail dan tidak segan mengundang konsultan untuk merencanakan dan membangun pabrik sampai kondisi yang ideal. Perancangan dan perencanaan sudah mengundang konsultan, mulai arsitektur sampai pembuatan alur produksi. Konsultannya pun mengundang yang bagus, bukan cari murah. Hasil kerja bisa jauh beda, sejauh tarifnya. Kontraktornya jadi enak, pekerjaannya tinggal mengikuti rencana yang telah dibuat. Sistem akuntansi diadakan sejak perusahaan berdiri, bahkan sebelum mulai membangun, sehingga semua transaksi tercatat dengan baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Kalau perlu sejak awal sistem akuntansi sudah berbasis komputer, walaupun cukup 1 unit, yang penting modern. Beli mesin tidak cari murah, tapi cari kualitas. Kalau perlu sudah otomasi. Setelah bangunan pabrik jadi dan siap operasional, sistem ERP diimplementasi, dan memilih yang bagus, bukan asal ada. Tahu kapan mempekerjakan karyawan berkualitas baik, walaupun gajinya lebih mahal. Visi, misi, budaya perusahaan ditentukan sejak awal.

Kedua format ini akan menimbulkan perbedaan yang besar. Pabrik yang tampak bagus akan mengundang karyawan dengan kualifikasi yang lebih tinggi, dan dengan manajemen yang benar-benar profesional sesuai dengan kualifikasi SDM yang sudah ada, apalagi dibantu konsultan, biaya per unit produk sebenarnya justru akan lebih rendah, dengan daya jual yang lebih tinggi.

Hitungan kalkulator awal sepintas pabrik yang asal jadi akan lebih menguntungkan, karena investasi awal kecil, operasional minimal, namun juga akan kesulitan menjual dengan harga yang lebih tinggi dan dengan kualitas SDM pas-pasan, akan kesulitan memiliki program pemasaran yang kuat.

Pabrik yang dibangun dengan profesional, sepintas tampak mahal sekali, namun jauh lebih menguntungkan di kemudian hari dan bisnisnya akan lebih aman lebih langgeng, karena memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi.

Peluang manufaktur di Indonesia masih tinggi, asal dikelola dengan profesional di segala aspek.

Evans Winata
Business Coach

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply