New Wave of Economy

0

Lima tahun yang lalu seseorang menceritakan idenya untuk merevolusi sistem transportasi di Indonesia. Orang ini melihat bahwa kemacetan di Jakarta sudah sangat parah dan sebagian orang memilih menggunakan ojek sebagai solusi. Maka ia bermaksud mengkoordinasi para tukang ojek dengan menggunakan aplikasi smartphone. Saat itu banyak orang pesimis bahkan menertawakan ide tersebut. Smartphone dan aplikasi Internet dianggap sebagai teknologi yang sophisticated. Keren, tapi masih jauh untuk masuk ke kalangan masyarakat apalagi tukang ojek. Hari ini Gojek yang didirikan Nadiem Makariem telah mengumpulkan lebih dari 200 ribu pengemudi ojek di 5 kota besar di Indonesia hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun.

Beberapa saat lalu saya dan beberapa rekan mengadakan sebuah event Google Business Group untuk memperkenalkan dunia Startup dan technopreneurship di Semarang. Startup saat ini memang sedang booming di Indonesia. Secara singkatnya startup berarti rintisan usaha baru dan biasanya bergerak dalam bidang digital atau berbasis teknologi. Salah seorang narasumber di event tersebut adalah Dhini Hidayati, co-founder dari sebuah startup bernama GandengTangan (gandengtangan.org). GandengTangan adalah wadah kolaborasi bagi para wirausaha sosial yang membutuhkan modal dengan publik yang ingin membantu dengan memberikan pinjaman. Melalui situs tersebut siapapun dapat mendukung berbagai gerakan sosial melalui pinjaman tanpa bunga, mulai hanya dari 50 ribu rupiah. Gojek dan GandengTangan adalah contoh dari sekian banyak startup yang muncul dengan pesat sebagai solusi berbagai problem di masyarakat dengan dukungan teknologi.

Suka tidak suka, disadari atau tidak, ada sebuah gelombang baru dalam perekonomian (New Wave of Economy) di Indonesia bahkan seluruh dunia. Teknologi dapat membawa kemajuan dengan pesat, tapi sebaliknya juga dapat menghancurkan model bisnis yang tidak berubah menyesuaikannya. Ambil contoh perusahaan persewaan film terbesar di dunia, Blockbuster, yang akhirnya menyatakan bangkrut karena gagal bersaing dengan perusahaan streaming film online seperti Netflix. Demikian juga jaringan toko buku Borders yang telah 40 tahun beroperasi akhirnya bangkrut karena tergerus penjualan buku online (e-books) via Amazon. Lucunya, Borders sebelumnya justru meng-outsource penjualan buku onlinenya melalui Amazon, karena mereka menganggap e-books bukanlah fokus penting bisnis mereka. Hingga akhirnya semua terlambat saat mereka sadar. Ini adalah contoh tragis ketidakmampuan para pebisnis dalam beradaptasi dengan gelombang ekonomi yang baru.

US Digital Service adalah sebuah startup lembaga yang didirikan tahun 2014 di dalam White House, pusat pemerintahan Amerika Serikat, dan berisi sebagian besar para profesional IT dari Silicon Valley. Lembaga ini telah terbukti berhasil merevolusi berbagai layanan publik dan menyederhanakan birokrasi pemerintahan mereka. Bagaimana dengan Indonesia? Kabar baiknya, pemerintah kita kini juga telah berbenah dan memberikan perhatian khusus pada perkembangan teknologi dan startup. Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Silicon Valley, Amerika Serikat beberapa waktu lalu telah memperkenalkan program untuk mencari 1000 startup baru di Indonesia. Beberapa perusahaan inkubator besar juga telah berminat untuk membantu perkembangan startup di Indonesia. Melalui Project 1000 Startup ini perkembangan startup dan para technopreneur di tanah air akan memiliki roadmap pembinaan yang jelas lewat berbagai program seperti seminar, workshop pelatihan, kompetisi hackathon, bootcamp dan inkubasi.

Dalam dunia pemasaran, teknologi Internet juga telah menjadi game changer (pengubah permainan). Orang kini dengan mudah mencari informasi atau produk melalui search engine. Kita menjadi akrab dengan istilah seperti “di Googling dulu..”. Dalam sekian detik orang sudah mendapat informasi yang dicari. Tak ayal jika usaha atau brand anda tidak tampil dengan baik di Google, bisnis anda dapat terlibas dari persaingan. Begitu pula dengan social media yang mempercepat penyebaran informasi secara “words of mouth” (mulut ke mulut). Informasi dan berita bisa menyebar secepat virus ke seantero nusantara hanya dalam hitungan menit atau jam melalui social media. Bagaimana dengan tayangan audio visual? Orang tidak lagi hanya menonton televisi. Keberadaan YouTube dan berbagai layanan video streaming memberi banyak pilihan yang dapat diakses lewat berbagai perangkat (multi devices).

Perkembangan teknologi seperti itu memberi kemudahan sekaligus tantangan bagi dunia usaha. Pemerintah telah mencanangkan agar valuasi bisnis e-commerce di Indonesia bisa naik sepuluh kali lipat dalam lima tahun mendatang. Demi mewujudkan mimpi menjadikan Indonesia sebagai negara berbasis ekonomi digital terbesar di Asia Pasifik. Lantas bagaimana dengan kita? Jangan sampai kita hanya menjadi penonton dan hanyut dalam gelombang ekonomi yang baru.

Hero Wijayadi
Founder HeroSoftMedia – Digital Marketing Agency, Semarang
www.herosoftmedia.co.id

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply