Mengenali Diri untuk Mendaki Lebih Tinggi

0

“The best part of life is not just surviving, but thriving with passion and compassion and humor and style and generosity and kindness” (Bagian terindah dari hidup adalah tak hanya sekadar bertahan, melainkan juga berkembang dengan semangat, kasih sayang, humor, gaya, kemurahan hati, dan kebaikan)

(Maya Angelou)

Salah seorang teman saya identik dengan hanya satu kata, yaitu “reparasi”. Ya, dia memang seorang yang pakar dalam hal itu. Apa saja bisa dia reparasi, sejak mesin mobil dan sepeda motor hingga peralatan elektronik rumah tangga seperti mesin cuci dan pompa air. Bahkan belakangan ini, dia mulai menapak satu tingkatan keahlian baru, yaitu mereparasi gadget semacam laptop dan telepon seluler.

Yang sudah dipertunjukkan dari sang teman ini adalah apa yang disebut dengan istilah personal branding. Apa yang seketika kita ingat dari namanya adalah satu hal yang dia inginkan untuk kita lihat. Dalam hal ini adalah tentang reparasi. Dan kita melihat dia demikian atas dasar rekam jejak kerja yang sudah dia lakukan saat mereparasi barang-barang kita.

Ingatan yang kuat tentang diri dia terkait dengan satu bidang pekerjaan atau keahlian tertentu menunjukkan betapa suksesnya dia membentuk citra diri yang positif melalui personal branding. Ada bukti tingkat kemampuan dan kompetensi tertentu yang sudah berhasil ia buktikan. Dan itu menumbuhkan kepercayaan pada benak publik. Selanjutnya, tiap kali butuh pakar reparasi, ingatan langsung melayang ke namanya, sehingga kita tak perlu memikirkan orang lain lagi dalam keperluan tersebut.

Ini menunjukkan betapa pentingnya personal branding. Kadang kita berpikir, hal itu hanya wajib dimiliki para pakar, orang-orang terkenal, tokoh masyarakat, atau manajer perusahaan-perusahaan besar. Padahal personal branding dibutuhkan oleh siapa saja tanpa kecuali, termasuk para karyawan, pegawai, dan orang-orang yang tengah memulai dunia kerja sejak dari nol.

Mengapa demikian? Sebab setiap saat kita akan memerlukan citra diri yang positif saat berinteraksi dalam dunia kerja. Pangkat, kenaikan posisi, dan jabatan tak akan mungkin dicapai jika kita tak berusaha mem-branding diri kita di hadapan rekan kerja, atasan, dan bos-bos tertinggi. Masa seumur hidup cukup hanya dengan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan saat ini yang penting mendapatkan penghasilan?

Dan langkah pertama menuju personal branding adalah pemetaan diri, yaitu dengan mengenali potensi diri. Tahapannya dimulai dari penggalian sisi-sisi positif dan negatif dalam diri. Dari situ akan bisa diketahui aspek-aspek mana saja yang dapat mendorong kemajuan kita, dengan sisi negatif sebagai hambatan dan tantangan yang harus bisa kita lewati.

Sesudah itu, kita harus menyusun nilai-nilai personal apa yang harus kita kembangkan untuk maju dalam hidup, dan tidak sekadar bekerja monoton yang penting dapat penghasilan untuk mencukupi butuh. Nilai-nilai personal yang dimaksud adalah semacam cinta, persahabatan, kehormatan diri, keluarga, sportivitas, dan banyak lagi. Tak perlu memilih semua. Tiga saja cukup. Misal hidup mengutamakan kehormatan, kepercayaan, dan keluarga. Berarti tiga itu saja yang kita pegang teguh sebagai prinsip yang tak dapat ditawar alias integritas.

Sisi-sisi positif terkait kemampuan yang dipayungi nilai-nilai personal dalam hidup inilah yang kemudian kita wujudkan menjadi cita-cita. Ini terkait dengan pekerjaan keseharian, seperti dokter, insinyur, aktor, penulis, atlet, dan lain sebagainya. Jika mau lebih dahsyat, tambahkan impian, yaitu hal-hal luar biasa spektakuler yang mungkin dapat teraih dalam pilihan cita-cita tersebut.

Misal andai memilih cita-cita sebagai dokter, impian kita adalah menjadi peraih Hadiah Nobel bidang kedokteran oleh suatu temuan medis yang luar biasa inovatif dan penting bagi kemanusiaan. Jika bercita-cita sebagai aktor, pasang impian untuk bisa berakting satu frame dengan Leonardo Di Caprio atau Julia Roberts. Impian memang terdengar gila saat kali pertama dicetuskan, dan belum tentu terwujud juga. Tapi jalan mendaki yang kita tempuh untuk mewujudkannya akan melahirkan banyak ilmu bermanfaat yang meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia.

Personal branding muncul sebagai hasil semua proses itu, yang bila diterjemahkan dalam bahasa paling gampang adalah bagaimana orang mengingat diri kita. Dan ingatan tersebut selalu berkaitan erat dengan skill yang paling kita kuasai dan membuat kita diakui. Sebagai contoh, personal branding seorang Lionel Messi adalah dalam hal mencetak gol. Sedang dalam diri Joko Anwar, jelas adalah dalam keahlian menyutradarai film.

Secara umum terdapat dua faktor yang berkontribusi positif dalam pembentukan self image melalui personal branding. Yang pertama adalah keahlian khusus yang kita kuasai, dan yang kedua adalah pengalaman kerja. Faktor pertama pasti akan membawa faktor kedua. Orang dengan skill tertentu, mereparasi ponsel misalnya, pasti makin lama akan memiliki pengalaman kerja dan jam terbang yang paling tinggi.

Sementara itu, faktor kedua tidak selalu mensyaratkan faktor pertama. Sebagai contoh, seorang montir yang cukup berbekal kemampuan dasar mereparasi mesin dapat terus bekerja selama 25 atau 30 tahun tanpa perlu meningkatkan tingkatan skill-nya. Dalam hal ini, pengalaman kerja yang telah begitu panjang mau tak mau akan membentuk personal branding-nya. Meski yang terbaik tentu adalah jika ia tak jalan di tempat, namun terus menaikkan kualitas keterampilannya sehingga mampu meraih predikat expert atau master di bidangnya.

Bagaimanapun metodanya, kerja keras adalah sesuatu yang mutlak harus dikerjakan terkait dengan personal branding. Kerja itulah action yang kita eksekusi sebagai buktinya, sebab publik pelan-pelan merekam kita dalam memorinya lewat kiprah kerja. Setelah sekian lama melihat dan membuktikan kompetensi kita, orang lain akan mulai mengasosiasikan diri kita dengan yang kita kerjakan. Saat itulah kita berhasil membangun diri kita melalui personal branding.

Sesudah itu terbentuk, akan jauh lebih mudah bagi kita untuk melanjutkan derajat kesuksesan. Orang sudah percaya, dan memberikan kepercayaan. Kita tinggal bekerja sesuai dengan bidang keahlian yang sudah berhasil kita branding-kan kepada publik. Tantangannya kemudian adalah, apakah kita cukup berhenti sampai di sini atau mengembangkan kemampuan guna menjamah tingkat kesuksesan yang lebih tinggi lagi.

Di titik itulah pentingnya kita rutin melakukan evaluasi terhadap proses-proses personal branding yang sudah kita kerjakan. Tak hanya mengevaluasi sisi positif dan negatif kemajuan serta metoda kerja, melainkan juga dalam hal mendaki tingkat tantangan karier. Di mana kita sudah berada saat ini, dan apakah ingin lanjut ke tahap berikut atau cukup puas berhenti pada level yang sudah tercapai sekarang?

Ibarat kata kita sudah menjejak pergaulan tingkat kabupaten atau kota, tantangan berikut tentu adalah menapak ke level provinsi, lalu nasional. Apa yang kita perlukan untuk menaklukkan tantangan baru tersebut? Siapa-siapa saja orang penting yang memegang posisi krusial dalam upaya pengembangan karier? Disebut dengan istilah stakeholder, orang-orang yang berperan penting ini harus selalu kita kenali, agar kita dapat selalu memberikan penampilan dan respon kerja yang prima di hadapan mereka tapi tidak urgen di depan orang-orang yang bukan merupakan stakeholder.

Tak jarang proses-proses pemetaan diri harus terus-menerus kita lakukan tiap kali mendaki level tantangan yang lebih tinggi. Hal ini penting sebab jenis hambatan yang kita temui di tiap jenjang bisa saja sangat berbeda-beda. Macam stakeholder yang kita temui pun tak selalu sama pada tiap tataran.

Sebagai contoh, stakeholder yang kita dapati pada tingkatan posisi sebagai karyawan biasa adalah rekan kerja, pasangan hidup, dan atasan langsung. Kita perlu menunjukkan kompetensi kerja dan dedikasi menyeluruh di hadapan mereka. Namun saat berhasil menapak jenjang promosi yang membawa kita pada jenjang jabatan manajer ke atas, kita akan bertemu para pemimpin tertinggi, pemimpin perusahaan lain, dan bisa saja para pejabat serta tokoh masyarakat. Tingkatan itu jelas memerlukan keahlian tambahan kita di bidang kesempurnaan penampilan, tak semata hanya dedikasi dan kompetensi lagi.

Karena itu, pemetaan diri adalah sebuah langkah yang harus terus kita tempuh tanpa kenal lelah. Hanya karena merasa sudah berhasil membentuk personal branding pada tingkat kecamatan, lalu kita berhenti memetakan diri—kecuali kita memang tergolong orang yang gampang puas pada level-level keberhasilan yang seadanya dan secukupnya.

Namun jika kita menyiapkan diri untuk selalu tertantang, kita harus terus-menerus mempertanyakan banyak hal penting pada diri sendiri. Siapa kita dan apa yang kita miliki? Apa yang kita lakukan? Bagaimana kita bisa membantu? Bagaimana kita bisa berinteraksi? Bagaimana publik mengenal diri kita dan bagaimana kita bisa menyampaikannya? Siapa yang membantu kita? Apa yang kita beri dan dapatkan?

Kemampuan dan kemauan kita untuk terus-menerus mempertanyakan semua itu pada gilirannya akan terus membawa kita pada dunia karier yang semakin menanjak, dan tidak berhenti di tempat.

Bonita DS
Direktur YPI Training Centre & Consultancy
Professional Trainer

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply