Masjid Menara Layur, Penanda Kejayaan Pesisir Semarang

0

Meski sering melihat fotonya di beberapa media, terutama di social media. Namun kami belum pernah berkunjung ke Masjid Menara Layur. Bangunan menara yang menjulang, mengundang penasaran Tabloid Simpang5 untuk mengunjungi lokasi yang tidak jauh dari titik nol kilometer Semarang ini. Apalagi masjid ini termasuk salah satu masjid tertua di Semarang. Masjid Menara diperkirakan dibangun pada tahun 1802 oleh ulama Arab Hadramaut (Yaman), tentu banyak cerita yang mengiringi perjalanan waktu masjid ini.

Selepas makan siang Tim Tabloid Simpang5 meluncur, melalui Jalan Imam Bonjol ke arah kawasan Kota Lama. Tepat sebelum Jembatan Mberok, kendaraan belok ke kiri dan tidak lama telah masuk ke Jalan Layur. Menara masjid yang menjulang membuat mudah untuk menemukannya. Untuk ke lokasi juga bisa melalui dari beberapa jalan lainnya, seperti dari jalan Petek kemudian belok ke Jalan Dorang dan masuk ke Jalan Layur.

Matahari bersinar cerah saat kami keluar dari kendaraan yang diparkir tidak jauh dari masjid. Terlihat beberapa orang beraktivitas di masjid, ada yang akan salat, dan ada pula yang sudah selesai salat. Beberapa yang telah selesai salat tampak menyempatkan diri berfoto dengan latar belakang menara masjid.

Beberapa pekerja tampak sedang merenovasi masjid untuk menyambut datangnya Bulan Ramadan. Sayangnya, ketika di lokasi kami tidak bertemu dengan penjaga atau pengurus masjid, sehingga tidak dapat menanyakan banyak hal berkait dengan sejarah Masjid Menara Layur ini. Penanda sejarah seperti tahun berdirinya masjid juga tidak kami temukan. Di tembok dekat teras masjid, tertulis keputusan Pemerintah Kota Semarang No. 646/50 tahun 1992, yang menetapkan Masjid Layur ini sebagai bangunan Cagar Budaya.

Bangunan Masjid Menara memiliki lebih banyak unsur lokal dengan perpaduan warna putih dan hijau. Jendela dan pintu yang mengelilingi bangunan masjid, membuat suasana masjid tetap terasa nyaman di siang hari yang terik. Di belakang masjid, kita bisa melihat langsung Kali Semarang yang dahulu merupakan jalur kapal dan perahu untuk mendarat. Karena itu dahulu kampung ini juga sering disebut sebagai kampung Ndarat.

Meski termasuk bangunan tua, masjid ini masih kokoh dan digunakan oleh masyarakat untuk beribadah. Saat ini masjid dirawat oleh yayasan masjid setempat sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai masjid tua kebanggaan Kota Semarang. Secara menyeluruh Masjid Menara Layur masih seperti pertama kali dibuat, hanya ada sedikit perbaikan. Seperti penggantian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola pada sisi kanan kompleks masjid.

Sedangkan pemberian nama Menara karena masjid ini memiliki menara yang menjulang tinggi di bagian depan masjid. Menurut cerita, dahulu menara tersebut difungsikan sebagai mercusuar untuk mengawasi kapal-kapal yang berlalu-lalang di Kali Semarang. Diperkirakan sekitar tahun 1743, kampung ini merupakan tempat untuk mendarat kapal dan perahu yang membawa barang dagangan. Pada akhir abad ke-18, menara tidak lagi difungsikan sebagai mercusuar dan selanjutnya dijadikan masjid oleh para saudagar Arab yang berasal dari Yaman.

Bangunan masjid dan menara saat ini memang tidak setinggi saat pertama dibangun. Dahulu awalnya bangunan masjid dibuat tinggi seperti panggung dengan sepuluh tangga. Sedangkan saat ini hanya tinggal tiga tangga. Rob yang melanda kawasan pesisir Semarang, termasuk kawasan Jalan Layur ini, membuat warga harus meninggikan tanah di sekitar masjid. Hal inilah yang menjadikan ketinggian masjid terus berkurang.

Melihat sejarah panjang Masjid Menara Layur ini terutama berkait dengan Kali Semarang, langsung terbayang sungai-sungai di perkotaan di Eropa yang bersih dan digunakan sebagai jalur transportasi. Sambil meluncur pulang, kami berharap Masjid Menara Layur ini juga bisa menjadi salah satu lokasi wisata sejarah di Semarang, tentunya dengan tidak mengganggu fungsi utama sebagai tempat ibadah.

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply