Jangan Kotori Tanahku!

0

Saya menekan klakson berulang-ulang. Sebuah sedan bewarna putih berplat luar kota barusan melaju di depan saya, dan salah satu penumpangnya membuang tisu ke jalanan, burrr, tanpa pekewuh. Saya jengkel melihat hal itu.

“Teeeettt!!! Teeeetttt!!!” klakson saya menyalak lagi. Ndak tau aturan! Emang jalanan milik nenek loh???
Dasar ndesoooo!!!

Kolega yang duduk di samping saya mengatupkan mulutnya rapat-rapat, lalu memberi kode agar saya menyalip. “Go after him!” perintahnya.
Saya menoleh. Seriously??? Kolega saya, seorang wanita sepuh yang telah berusia 82 tahun mengangguk mantap.
“I got to tell them something!” Suaranya penuh kejengkelan.

Saya mempercepat laju mobil dan menyalip sedan putih dari samping kanan. Kolega saya membuka jendela, siap menyemburkan ‘kata-kata mutiara’. Tapi sedan putih bergeming, melaju santai tanpa membuka kaca jendela. Saya berkata pada sobat saya yang cemberut, “Forget it. They will not open the window.”

Sobat saya menjeb. Jelas jengkel nian hatinya.
Lalu ia bercerita. Suatu ketika ia hendak pergi ke Gunung Bromo bersama keluarga. Iring-iringan mobil merayap di sepanjang jalan. Di sebuah tikungan, terjadi kemacetan; mobil-mobil berhenti. Sebuah mobil bewarna biru berhenti di depan mobilnya. Seseorang membuka kaca jendela, mengeluarkan sebuah asbak yang penuh puntung rokok. Dengan santainya si penumpang menumpahkan seluruh isi asbak ke jalanan, lalu dengan tanpa rasa bersalah, menepuk-nepukkan asbak ke tubuh mobil untuk membuang abunya.

“I was so furious,” ujar sobat saya dengan nada tinggi, “I got out from the car. I knocked his window very hard…” Ia memperagakan bagaimana ia memukul kaca jendela mobil keras-keras dengan telapak tangannya.
Saya melongo.

“Turn out he’s a Frenchman. He opened the window and I scolded him!”
Saya ternganga. Haaahhh??? Memarahi turis asing??? Kolega saya mengangguk.
“I told him. Don’t litter my soil!!!” hardiknya keras. Jangan kotori tanahku!

Pak sopir yang duduk di samping si turis berusaha menengahi, membela si turis asing. Alhasil ia ikut disemprot, “Bapak harusnya kasih tau! Jangan boleh mereka buang sampah sembarangan kotori tanah kita!!!”
Bapak ibu sekalian, kolega saya, si nenek enerjik berusia 82 tahun ini, sebenarnya sudah tidak lagi tinggal di Indonesia. Benar ia lahir di Indonesia, tapi sejak 50 tahun yang lampau sudah bermigrasi ke negara Paman Sam. Kecintaannya kepada Indonesia mendadak tumbuh dan bernas sejak 7 tahun yang lalu, saat pertama kali ia balik ke tanah air untuk memperkenalkan novel yang ditulisnya. Genap sebulan ia berkunjung ke berbagai tempat di pelosok tanah air, mendadak sebuah ‘kesadaran’ menyeruak.

“When the mud of a Salatiga river oozes between my toes, when I float in the Banda Sea, when I touch an old banyan tree, when I sit on the steps of the Borobudur with morning fog wrapped around me, a feeling of content and belonging fills my being…”

Mata sipitnya menerawang jauh. Keriput di wajah dan perak di rambutnya menjadi saksi kata-kata yang mengalir tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.

“I know, I belong. During these experiences, all my senses affirm that in this soil, I root. In this water, I find rest. In this tree’s shade, I find comfort. It is these people’s wisdoms and rituals I turn to when shaken…”

Saya tercekat membaca perasaannya, keterkaitannya pada tanah air yang ‘menghilang’ selama setengah abad lebih, yang ia ungkapkan dalam sebuah konferensi sastra di Kota Jogjakarta baru-baru ini.

Sebuah transformasi total; tanpa tedeng aling-aling.
“I stand in front of the car,” lanjut si nenek ‘galak’ meneruskan ceritanya.
“Pick up those trash now! Or you can run over me, I will not move from where I stand!”
Ia berkacak pinggang di depan mobil si turis asing. Mencintai tanah air – tidak perlu teori lebay atau peribahasa alay. Cukup meneguhkan prinsip tanpa kompromi mendayu-dayu.
“Punguti sampahnya! Atau silahkan tabrak aku. Aku tak kan bergeming!”
Andai masih muda, ia pasti menjadi rekanan Koh Ahok nan sepadan.

Harjanto Halim
Pengurus Perkoempoelan Sosial Boen Hian Tong

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply