Jangan Asal Bicara

0

Intellligence, knowlegde or experience are important and might get you a job, but strong communication skills are what will get you promoted” (Kecerdasan, pengetahuan atau pengalaman sangat penting dan memungkinkanmu mendapatkan pekerjaan, namun kemampuan berkomunikasi yang baik lah yang akan membuatmu dipromosikan). ~ Mireille Guiliano

Kadang tidak diperlukan orang lain untuk membuat diri kita malu. Kerap kali justru kita lah yang menjadi penyebab malu diri sendiri, akibat dari kurangnya skill membawa diri, salah satunya dalam berkomunikasi. Hal ini saya lihat sendiri saat suatu kali diajak teman mengikuti acara di lingkungan tempat tinggalnya.

Di acara itu, yang merupakan tasyakuran memperingati pemilihan Ketua RW baru, ada satu momen ketika sang ketua terpilih dipanggil ke depan untuk berpidato. Nah, yang membuat telinga gatal adalah karena sang pembawa acara memanggil Pak RW dengan sebutan “kamu” di panggung, di tengah puluhan hadirin.

Usut punya usut, sang MC ternyata adalah kawan kuliah Pak RW sekian tahun lalu, saat masih sama-sama muda. Karena berkawan akrab, ia jadi tak merasa bersalah menyebut Pak RW dengan panggilan demikian. Dan nampaknya baik sang pejabat lingkungan maupun seluruh warga dan tamu undangan dari luar wilayah tak ada yang menyadari kejanggalan tersebut.

Namun bagi saya yang concern mengenai masalah citra diri dan kemampuan berkomunikasi serta bersosialisasi, sok akrabnya sang pembawa acara adalah sesuatu yang sangat salah, bahkan mempermalukan diri sendiri. Ada banyak adab dan aturan yang harus dipatuhi seseorang yang tengah berkomunikasi di hadapan khalayak, salah satunya adalah dalam hal menempatkan diri dan membaca situasi.

Apa pun posisi seseorang bagi kita, kedudukannya tetap akan beda tergantung dari sikon yang juga tak sama. Sebagai contoh, kalau ibu kita jadi guru, apakah kita akan tetap memanggil beliau “Mama” saat diajar beliau di kelas? Tentu tidak. Meski beliau mama kandung, di kelas, tetap saja kita adalah muridnya, sama dengan siswa-siswi lain. Jadi meski Pak RW baru adalah sahabat main kita, tetap saja kita tak bisa sok akrab berkamu-aku dengannya dalam forum resmi di depan umum.

Dalam acara formal menjelang sambutan tersebut, Pak RW adalah pejabat lingkungan yang harus dihormati secara formal juga, sesuai kedudukannya. Sekalipun dia adalah kakak atau adik kandung kita, tetap saja kita harus menyebutnya dengan panggilan “Bapak”, andai kita berada pada posisi sang MC. Barulah kemudian, sesudah acara resmi berlalu dan kita kembali bertemu dengannya secara personal, panggilan akrab dapat kembali kita berikan padanya.

Kemampuan berkomunikasi merupakan salah satu elemen terpenting pembentukan self image yang baik. Tanpa itu, citra diri kita akan menjadi berkurang. Dan sebagai akibatnya, orang lain pun akan mencitrakan kita dengan negatif juga. Dan munculnya persepsi kurang baik dari orang lain, apalagi orang banyak, terhadap diri kita, bisa berefek buruk, termasuk hilangnya peluang bisnis dan pekerjaan.

Bayangkan! Andai kesalahan kecil sok akrab itu terjadi dalam lingkup profesional, yang dilakukan oleh MC yang juga pro. Bisa dipastikan sesudah ini dia akan kehilangan tawaran job cukup banyak. Para calon klien tentu tak akan mau melibatkan seorang pembawa acara yang rentan melakukan kesalahan elementer seperti ini pada acara-acara mereka, yang bisa saja dihadiri orang-orang penting dan berpengaruh. Semua terjadi karena kekurangcakapan yang bersangkutan dalam memelihara self image dalam sisi berkomunikasi.

Ini jelas fatal, karena kemampuan komunikasi adalah salah satu skill paling mendasar yang harus kita miliki dalam hidup. Terlebih bila kita mulai melek terhadap persoalan citra diri, kemampuan paling awal yang harus dibenahi adalah dalam adab berkomunikasi. Sebab hal inilah yang nanti akan menjadi dasar pembentukan self image kita.

Lalu apa saja yang harus kita kerjakan untuk meningkatkan skill kita dalam berkomunikasi? Yang paling awal adalah hal-hal terkait dengan kesopanan. Kata-kata harus dijaga. Istilah kasarnya, jangan asal njeplak saat berkomunikasi, baik secara verbal maupun nonverbal, misal melalui tulisan. Kita harus benar-benar peduli soal diksi atau pilihan kata. Ketika berkata-kata, pilihlah kata sebaik mungkin. Jangan asal apa pun yang terlintas di kepala—terlebih berdasar emosi sesaat—langsung diluapkan tanpa kendali.

Dan cara termudah memperbaiki diksi adalah dengan membaca. Tidak sembarang baca, melainkan buku-buku sastra yang bagus. Di sanalah pusatnya kata dan kalimat dalam bentuk yang paling sempurna, baik secara hukum kebahasaan (Ejaan Bahasa Indonesia, nama baru dari EYD atau Ejaan yang Disempurnakan) maupun secara estetika, keindahan. Terbiasa membaca karya sastra secara tak sadar akan membantu kita memilih kata-kata yang terbaik dan paling elegan untuk digunakan dalam kesempatan-kesempatan berkomunikasi.

Langkah berikut adalah berusaha semaksimal mungkin mengaitkan pilihan dan cara kita berkata-kata dengan dunia kerja profesional kita. Bila kita bekerja sebagai komedian seperti Sule atau Andre, sudah pasti kita akan berkomunikasi dengan cara yang renyah dan lucu. Bila kita seorang dosen, maka kita akan berkata-kata dengan penuh cita rasa akademik ilmiah. Begitu pula bila kita adalah tokoh agama atau pendidik, tinggal menyesuaikan.

Cara ini akan membantu kita untuk, sengaja atau tidak, menjaga kata dan kalimat kita tetap berada dalam koridor kesopanan dan kepatutan. Tentu tak masuk akal jika asal njeplak itu tadi kita pakai hanya karena sedang emosi atau tersinggung, lalu tak ingat siapa diri kita sebenarnya. Orang banyak pasti akan bingung, loh… tokoh agama kok ngomongnya gitu? Guru kok bicaranya tidak intelek semacam itu…?

Dan terkait dengan kesopanan, skill paling penting yang harus kita kuasai adalah sabar serta tidak mudah terpancing emosi. Tentu normal bila dalam hidup terdapat situasi atau orang-orang tertentu yang membuat kita kehilangan kontrol setelah darah mendidih hingga ke ubun-ubun. Pelajaran substantif mengenai nilai-nilai religi dan intelektualitas akan membawa ke titik ini, sehingga kita tetap terkendali sekalipun emosi meledak. Pengendalian diri akan menghindarkan kita dari kondisi asal njeplak yang berbahaya bagi kesempurnaan citra diri.

Selanjutnya, langkah terakhir dan sekaligus terpenting dalam kemampuan berkomunikasi yang baik adalah dalam hal menempatkan diri. Komunikasi tak hanya soal menyampaikan pesan, dari komunikator kepada komunikan. Tak sekadar persoalan bahwa message yang kita sampaikan tiba kepada sasaran, melainkan lebih kepada bagaimana kita menyampaikannya. Ini mirip motto hidup orang periklanan: “Bukan mengenai apa yang kamu katakan, tapi bagaimana kamu mengatakannya”.

Kemampuan membaca situasi sangat krusial dalam hal ini. Kaitannya adalah mengenai audiens tempat kita berkomunikasi dan karakternya. Beda karakter akan membuat perbedaan pula dalam kita berkomunikasi. Misal kita petugas pajak yang harus berkampanye soal ketaatan membayar pajak. Saat menyampaikan hal itu di depan warga umum dan kemudian dengan siswa SMA, tentu kita tak bisa menggunakan cara berkomunikasi yang sama.

Bila yang kita pakai adalah cara bergaul dengan kata-kata kekinian dan slenge’an khas anak muda, tentu warga umum tidak paham dan pasti tak suka. Akibatnya, materi penting yang hendak kita sampaikan jadi muspra alias terbuang percuma. Bila yang kita gunakan di depan anak SMA adalah kata-kata formal dan resmi seperti yang kita pakai pada warga masyarakat umum, sudah pasti para siswa itu akan ngantuk dengan cepat. Hasilnya sama: komunikasinya gagal total!

Mampu membaca situasi secara cerdas pasti akan menyelamatkan kita dari kesalahan fatal sang pembawa acara di atas. Tak hanya cermat membedakan audiens, kita juga peka mengamati seluruh komponen yang terlibat dalam satu forum komunikasi—termasuk diri kita sendiri, sifat forumnya secara umum, dan tokoh penting yang terlibat. Tak perlu di-briefing terlebih dulu oleh panitia acara, kita akan otomatis menyesuaikan cara bicara kita dengan keseluruhan komponen acara.

Sebagai salah satu elemen dasar penciptaan self image yang baik, kemampuan berkomunikasi mutlak harus kita pelajari dan latih secara sungguh-sungguh. Tak bisa sembarangan, semata hanya berasakan “udah dari sononya”. Skill komunikasi, baik verbal maupun nonverbal, adalah sesuatu yang sangat bisa ditingkatkan hingga level mahir, dan bahkan expert. Ini terutama sangat penting dalam era media sosial sekarang ini, yang menuntut kemampuan berpikir dan menulis prima agar terhindarkan dari situasi asal njeplak yang memalukan.

Masih mending bila hanya bikin malu orang lain, dipermalukan orang lain, atau mempermalukan diri sendiri. Bagaimana jika kekurangsiapan berkomunikasi menyeret kita hingga ke ranah hukum? Cacat yang seperti ini akan berusia selamanya, bahkan bisa mencoreng nama baik diri hingga ke anak cucu tujuh turunan!

Bonita DS
Direktur YPI Training Centre & Consultancy
Professional Trainer

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply