Impian Warga Semarang

0

Pada awalnya, Semarang adalah desa di sebuah perbukitan yang disebut Pragota. Nama Semarang diberikan oleh Pangeran Made Pandan atau Sunan Pandanaran I. Beliau, pada akhir abad ke-15 ditempatkan oleh Kerajaan Demak untuk menyebarkan ajaran Islam di kawasan tersebut. Sebutan Semarang muncul karena di sela-sela kesuburan perbukitan Pragota ada pohon asam yang arang atau jarang.

Setelah mendirikan desa Semarang, Pangeran Made Pandan juga menjadi kepala desa dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Kepemimpinannya kemudian dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II. Di bawah pimpinannya, kawasan yang bernama Semarang tersebut terus tumbuh, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang.

Pada 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, atau 12 rabiul awal tahun 954 H. Semarang yang telah memenuhi persyaratan peningkatan daerah diputuskan untuk menjadi setingkat dengan Kabupaten. Keputusan tersebut diambil Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Semarang.

Dari sejarah awal berdirinya Semarang, kita bisa melihat sebuah daerah yang tumbuh pesat sehingga kemudian berubah status menjadi setingkat kabupaten. Semarang juga pernah mendapat julukan Bandarnya Jawa Tengah, karena aktivitas yang tinggi pelabuhan. Dan pada masa awal pemerintahan Indonesia, Semarang dipilih sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah.

Rentetan pertumbuhan Kota Semarang tersebut, tentu menjadi tantangan bagi generasi saat ini untuk melanjutkan tongkat estafet perkembangan kota ini. Pertumbuhan kota ini ke depan tentu tergantung impian dan usaha kita saat ini. Untuk mengetahui impian warga Kota Semarang tentang kotanya ini, Tabloid Simpang5 mewawancarai beberapa nara sumber dari bidang yang berbeda.

Pertama Flavia Saraswati, pemenang pemilihan Denok Kota Semarang 2016 ini berharap, Kota Semarang semakin tangguh untuk menjawab tantangan perubahan yang terus terjadi. Dia juga berharap generasi muda memiliki ruang untuk menyalurkan kreativitas, sehingga Kota Semarang mampu bersaing dengan berbagai kota lainnya.

“Dalam hitungan hari, Kota Semarang yang kita cintai akan memasuki usia 470 tahun. Semoga Kota Semarang semakin tangguh menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang. Serta dapat memberi ruang bagi keberagaman dan kreativitas generasi muda untuk menjadi kota yang berdaya saing,” jelas Saras.

Komentar kedua dari Muhammad Yogi Fajri, Community Manager Lopen Semarang. Yogi, panggilan akrabnya, melihat transportasi publik di Kota Semarang harus terus diperbaiki. Peningkatan jumlah kendaraan pribadi yang cukup pesat dan menyebabkan terus bertambahnya titik kemacetan, harus dicarikan solusinya sejak awal.

“Selamat hari jadi Kota Semarang yang ke-470, semoga ketersediaan transportasi publik semakin jauh lebih baik, jadi warganya semakin mudah mobilitasnya tanpa harus pakai kendaraan pribadi dan bikin macet jalanan Semarang. Mobilitas tinggi, jalanan lancar, polusi tereduksi, warganya sehat, perekonomian meningkat, Semarangku naik kelas!” harap lulusan Universitas Diponegoro ini.

Ketiga dari Adjeng Tunjung, Public Relation Hotel Horison Semarang. Berkait dengan HUT Kota Semarang, Adjeng berharap, Kota Semarang semakin sukses, jaya, dan setara. “Apalagi untuk kesetaraan ekonomi dan pendidikan. Bebas banjir dan kemacetan jalan. Ditingkatkan hiburan di Kota Semarang untuk selalu menarik wisatawan lokal maupun non lokal,” imbuhnya.

Bagaimana dengan impian Anda pada Kota Semarang?

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply