Clear Chat

0

Saya bertanya pada beberapa teman, “Punya berapa ‘Grup WA’?”
Ada yang menjawab 5, ada yang menjawab 11, bahkan ada yang punya 50! Saya terbelalak. Lima puluh???
“Iya, lha wis piye. Aku sungkan nek ‘Leave Group’. Nanti dirasani, diunekke ‘sombong lah, ‘kemlinthi lah’…”
Whalahhh.

“Aku tahu, tiap pagi, kamu pasti…” Saya nyengir.
“Apa???” Mereka penasaran.
“Clear Chat!” Saya tertawa.
Semua tertawa. “IYAAA!!”
Kami ngakak. Ternyata semua juga melakukan apa yang saya lakukan. Grup WA banyak, gak pernah dibaca, tiap pagi cuman ‘Clear Chat’!

“Lha nobatke tenan. Ditinggal turu mak nyuk, sesuk chat e ribuan. Wong sak dunia omong kabeh. Kene turu, kono ngomyang!” celoteh seorang teman yang grup WA nya berisi teman-teman alumnus yang kini tinggal di manca negara.
“Ora tak baca, langsung tak ‘clear chat’…”
“Bener…” seloroh saya.

Lalu saya bercerita – pernah tidak rajin meng’clear chat’ sebuah grup. Suatu ketika, saat meng’clear chat’, henpon sontak ‘hang’, muter terus, jam pasir. Ribuan atau belasan ribu ‘chat’ telah membebani memory. Terpaksa saya ‘delete’ chat satu persatu, manual. Kapok tuwo!

‘Clear chat’ satu hal, telepon hal lain. Kalau dipikir-pikir, kini saya semakin jarang telepon; kirim ‘sms’ pun jarang. Sekarang hanya pakai ‘WA’.
“Rasane kalau ada yang telepon malah aneh,” komentar seorang kolega, “jadul!”
Saya manggut-manggut.

“Bahkan kalau mau nelepon, saya WA dulu…”
Oya?
“Rasane lebih sopan…”
Bener juga.
“Kayak mau dolan ke rumah orang, lebih sopan tingtung’, ngebel dulu. Ndak langsung nylonong…”
Hahaha, bener juga.
“Kecuali kalau sudah kenal akrab…”
Saya manggut-manggut. Jaman berubah.

Saya teringat penjelasan seorang penyedia jasa ‘e-commerce’. Ia menggambarkan bagaimana kegiatan transaksi online: ‘view’, ‘click’, dan ‘RFQ’, Request For Quotation, persis seperti saat kita jalan-jalan di mal. Saat kita melihat barang, itu ‘view’. Kita tertarik lalu nuding, itu ‘click’. Kita makin tertarik, tanya harga, itu ‘RFQ’. Hmm, digitalisasi perilaku.

Apapun yang terjadi di dunia nyata, sudah didigitalisasikan di dunia maya. WA sebelum telpon kayak ngebel sebelum masuk ke rumah, mau ‘leave grup’ sungkan dirasani. Hehehe.

Jaman berubah. Di rumah tidak lagi teronggok ‘Buku Telpon’ yang berisi catatan telpon keluarga, kerabat, teman-teman dan tetangga, yang sering diselipi catatan resep, bon-bon katering, kartu ulang tahun kadaluarsa, sobekan tanggalan berisi alamat teman di luar kota, atau nota pesanan bunga yang sudah lunas. ‘Buku Telpon’ pernah menjadi harta rumah yang berharga. Itu dulu. Kini, apa ya, harta yang paling berharga dalam rumah kita?

Harjanto Halim
Pengurus Perkoempoelan Sosial Boen Hian Tong

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply