Cara Bersantap

0

“Eating is aggresive by nature, and the implements required for it could quickly become weapons; table manners are, most basically, a system of taboos designed to ensure that violence remains out of the questions” (Makan memang pada dasarnya agresif, dan hal-hal yang diperlukan untuk itu bisa saja menjadi senjata berbahaya; maka table manner pada dasarnya adalah satu sistem larangan yang dirancang untuk memastikan bahwa kekerasan sama sekali tak termungkinkan) ~ Margaret Visser

Pada suatu ketika, saya bersama dengan seorang kawan makan siang di sebuah restoran makanan Eropa. Namanya juga kuliner luar negeri, tentu nama-nama makanan yang tertulis di buku menu terasa rumit diucapkan dan dipahami—kecuali bagi yang telah terbiasa bersantap di tempat-tempat makan demikian. Nah, ternyata, sang teman ini tak termasuk di dalamnya.

Dia lama sekali membolak-balik buku menu, dan kemudian pilihannya jatuh pada calamari. Setelah pesanannya datang, dia terkejut melihat yang datang ternyata cumi digoreng tepung yang berbentuk mirip ring alias cincin. Dia pun tak jadi makan, karena ternyata tak suka pada cumi. Akhirnya saya harus membantunya menerjemahkan nama menu termasuk menjelaskan kandungan bahan makanannya!

Jarang disadari dan diketahui, namun cara kita bersantap menunjukkan siapa kita dan dari mana asal-usul kita. Dalam kaitannya dengan self image atau citra diri, cara makan termasuk di antara bagian keterampilan etiket yang terpenting. Dari hal ini bisa diketahui hingga seberapa bagus kemampuan kita dalam membentuk citra diri yang positif. Dan kegagalan dalam menghadirkannya dapat menjatuhkan keseluruhan citra kita di mata orang lain, terutama orang-orang penting berpengaruh yang memiliki self image terpelihara.

Sang teman ini tadi ketahuan tak memiliki citra diri yang baik hanya karena kecerobohan dalam menerapkan cara bersantap. Seharusnya, bila memang tak tahu, bertanya saja pada yang lebih mudeng—dalam hal ini saya, atau rekan lain yang tengah bersamanya bersantap. Atau bila tidak, langsung bertanya saja pada waiter atau waitress tak akan menjatuhkan maruah diri. Justru mereka akan dengan senang hati menjelaskan, lengkap dengan saran menu-menu recommended atau yang hari itu tengah diangkat sebagai menu of the day.

Namun ternyata tidak. Dia—dan mungkin banyak dari kita—malah gambling dengan bersikap sok tahu. Asal comot menu secara random, mengesankan bahwa dirinya sudah paham dan terbiasa. Namun karena faktanya ternyata berbanding terbalik dengan pengalaman dan pengetahuan, musibah lah yang datang. Selain membuang-buang makanan, buang duit juga, karena terpaksa harus pesan makanan sekali lagi.

Masih banyak contoh kasus lain dari kesembronoan dalam bersantap. Misalnya menghadiri undangan jamuan makan formal yang berlaku untuk satu orang, namun datang dengan mengajak teman, atau pasangan. Atau menggunakan serbet roti tidak untuk membersihkan sekitar mulut melainkan untuk mengelap keringat. Yang ini sih benar-benar sudah keterlaluan!

Yang lebih parah adalah kekeliruan mendasar saat tengah berada dalam acara jamuan makan formal. Namanya formal, tentu segala detail tak bisa semaunya. Ada aturan yang harus ditepati, bahkan yang hanya seremeh temeh cara meletakkan sendok atau garpu. Tapi orang yang rendah dalam self image pasti akan bertingkah sekehendak hati.

Misal karena lapar, langsung mengambil roti yang ada di sebelah kanan. Ini jelas mengganggu rekan yang ada di kanan, karena peletakan resmi roti adalah di sisi kiri, sehingga yang merupakan hak milik adalah yang ada di sebelah kiri kita, bukan sebaliknya—atau apalagi berpikir peletakan roti dilakukan sembarang secara acak.

Kesalahan lain adalah tidak memahami peralatan makan yang disediakan dalam jamuan makan resmi, juga urut-urutan penyajian hidangan. Mengira jamuan makan formal tak ubahnya restoran, kita merasa bebas bisa memesan kopi pada petugas penyaji, lalu srupat-sruput ngopi dengan asyiknya mendahului hadirin yang lain!

Kebiasaan untuk bersikap santai dalam acara santap ini cukup mengakar dalam masyarakat Indonesia, karena adat tradisi leluhur kita memang tak memiliki patokan yang baku dan rigid soal adab bersantap. Satu-satunya acara santap resmi yang dikenal dalam kebudayaan Nusantara adalah acara makan bersama dalam acara-acara pernikahan atau peringatan hari-hari tertentu seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Itupun tata cara yang digunakan sebenarnya relatif santai, karena siapapun bisa makan dengan caranya sendiri-sendiri. Apalagi karena adab bersantap tradisional Indonesia biasanya diselenggarakan dengan duduk lesehan dan piring disangga dengan tangan kiri, sementara tangan kanan menyuapkan makanan ke mulut tanpa menggunakan alat bantu seperti sendok, garpu, atau pisau.

Habit yang seperti ini membuat mayoritas warga Indonesia menyikapi acara makan sebagai salah satu aktivitas hidup yang bisa dilakukan sesantai mungkin. Bahkan acara santap besar pada acara resepsi pernikahan pun umumnya bisa dilakukan sambil lalu sembari berdiri dan bebas mengobrol (standing party). Karenanya, ketika dihadapkan pada tata cara bersantap ala mancanegara yang sangat resmi, kita bisa saja keteteran dan mengalami culture shock bila tak sebelumnya mempersiapkan diri.

Padahal dunia pergaulan korporasi modern mewajibkan hal ini. Saat kita masuk menjadi karyawan perusahaan-perusahaan modern, terutama di kota-kota besar metropolitan, kemungkinan besar kita akan bertemu event-event santap resmi yang diselenggarakan perusahaan. Atau bisa juga menerima undangan acara makan dari perusahaan lain. Andai kita ditunjuk menjadi perwakilan perusahaan ke acara semacam itu, ketidaktahuan soal table manner tak hanya menjatuhkan diri sendiri, namun juga reputasi perusahaan. Ujung-ujungnya, kita bisa kehilangan pekerjaan!

Maka dalam upaya membangun self image yang positif, pengetahuan tentang cara bersantap yang baik mutlak harus dikuasai. Dan ini sebenarnya dimulai dari kemampuan diri untuk membaca situasi. Dalam acara-acara santap informal, tentu tak apa-apa bersantap dengan cara biasa, asal sopan dan sesuai standar etiket dasar. Misal dengan tidak menimbulkan bunyi berkecipak saat mengunyah, tidak terbiasa mengaduk-aduk nasi dan sayur seolah-olah yang ada di piring adalah semen, dan tidak bicara atau tertawa saat makanan masih ada di mulut.

Namun bila yang dihadiri adalah acara santap formal yang elegan, tentu sudah pasti kita harus membekali diri dengan skill bersantap yang memadai sesuai aturan table manner yang berlaku internasional. Sekali lagi, jika tidak atau belum tahu, akui saja bahwa memang belum bisa. Maka ini saatnya untuk bertanya pada yang lebih tahu. Andai sangat kepepet pun, bukankah sekarang sudah ada Google, yang bisa menjawab semua pertanyaan?

Secara umum, terdapat beberapa hal mendasar yang harus kita semua ketahui tentang table manner:

  • Ada beberapa lagi jenis jamuan selain yang umum kita ketahui, yaitu breakfast (sarapan), lunch (makan siang), brunch (gabungan breakfast dan lunch), dan dinner (makan malam). Budaya barat mengenal juga adanya high tea (acara minum teh, dari pukul 16 hingga 18), cocktail party (pukul 16 hingga 20), dan supper (santap larut malam, pada pukul 22—setelah dinner yang diadakan pada pukul 20). Beda jenis jamuan, akan beda pula menu yang disajikan dan cara-cara menyantapnya.
  • Dalam panduan table manner, sikap tubuh termasuk yang harus mendapatkan perhatian serius, tak bisa serileks saat makan di rumah sendiri atau di warteg, misal dengan mengangkat sebelah kaki ke bangku. Di acara santap resmi, punggung harus tegak. Selain itu pantang meletakkan siku pada meja, apalagi sambil menyangga dagu dengan tangan!
  • Karena adab santap internasional terdiri dari banyak course (urutan), maka alat makan yang tersaji di meja akan berjenis banyak. Ada sendok, garpu, dan pisau. Sendok pun bisa berbeda tergantung urutannya, atau alat makan yang digunakan. Alat makan akan diletakkan berjejer mengapit piring. Urutan penggunaan adalah diawali dari alat yang dijajar terjauh dari piring, dan kemudian berurutan makin ke dalam.
  • Menggunakan serbet pun tak bisa sembarangan. Di restoran, serbet akan langsung ditaruh di pangkuan kita oleh waiter, atau kita sendiri yang meletakkannya. Namun pada jamuan makan resmi di rumah kediaman, peletakan serbet ke pangkuan harus menunggu nyonya rumah. Begitu sang nyonya melakukannya, baru tamu-tamu boleh mengikuti.
  • Roti disantap dengan cara disobek menggunakan jari, bukan dengan pisau. Kita baru boleh menggunakan pisau untuk mengoleskan butter pada potongan roti yang sudah kita sobek.

Khusus mengenai table manner, aturan yang ada memang ribet, pasti tak sesuai dengan tata cara makan orang Indonesia yang serba santai. “Makan saja kok repot!”, begitu pasti komentar kita menyikapi hal ini. Namun itu mutlak tak terhindarkan bila kita mendaki level pergaulan sosial hingga ke tingkat paling atas, terlebih biasanya hal demikian berlangsung sembari kita membawa nama baik perusahaan, institusi, dan atasan.

Karenanya cerminan dari self image yang baik adalah kemampuan kita beradaptasi dengan lingkungan. Dalam hal ini mengenai urusan cara bersantap.

Bonita DS
Direktur YPI Training Centre & Consultancy
Professional Trainer

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply