Bahtera Kemanusiaan

0

Kami makan sambil ngobrol. Di depan saya duduk dua orang luar biasa. Dua-duanya berprofesi sebagai dokter. Yang satu bergelar ‘Dokter Spesialis Gelandangan’, karena pekerjaannya merawat dan mengobati gelandangan yang tinggal di kolong jembatan, yang satu lagi bergelar ‘Dokter Gila Berhati Mulia’. Besok mereka akan bicara di acara gelar wicara ‘Anak Bangsa Membangun Indonesia’.

Sang ‘Dokter Gila Berhati Mulia’ yang lahir dari keluarga miskin, adalah dokter spesialis bedah lulusan Jerman. Beliau ahli bedah umum, bedah jantung, bedah toraks dan bedah pembuluh darah. Papanya meninggal saat ia berusia 10 tahun, meninggalkan mamanya dengan tujuh anak dalam setumpuk kemiskinan. Mamanya terpaksa bekerja keras membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

“Satu adik saya meninggal karena diare yang telat ditangani,” ujar pak dokter yang mulai beruban rambutnya.
Kemiskinan telah menjadi karibnya semenjak kecil.

Saat ia berkata bahwa ia ingin jadi dokter yang kuliah di Jerman, seluruh teman sekelas menertawakan dirinya. Namun ia pun gigih mewujudkan cita-citanya. Meski telat hampir 4 tahun, akhirnya ia berhasil pergi ke Jerman, kuliah sambil nyambi kuli di pelabuhan dan panti jompo. Akhirnya ia pun berhasil menjadi dokter. Ia selalu mengingat pesan mamanya, “Tek Bie (nama Tionghoanya), kalau jadi dokter, jangan memeras orang miskin. Mungkin mereka akan membayar kamu berapapun, tetapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang beli beras…”
Kemiskinan adalah kepahitan yang tak tereja.

Waktu saya tanya berapa usianya, beliau langsung menjawab, “Tujuh belas, cara Arab!” sambil terkekeh.
Saya bingung sesaat, sebelum akhirnya nyengir, oh, tujuh puluh satu.
“Saya sudah kena gula 30 tahun, pasang 7 stents, dan barusan menjalani kemoterapi untuk prostat…” Woww! So many things have gone through his life.
Tapi saya melihat seorang pria gagah yang penuh optimis, tegap berjalan, lantang bersuara, tak ada pantangan bersantap.
“Yang penting selalu minum Jamu Jarak,” tuturnya sambil kembali terkekeh.
Saya menatap heran. “Jamu Jarak? Daunnya? Atau akarnya?”
Pak Dokter Gila Berhati Mulia terkekeh. “Jamu Jarak, jaga mulut, jangan rakus!”
Hahaha… saya gantian tertawa.

Dan ia pun berkisah awal mula ide rumah sakit apung. Saat itu ia selesai mengobati pasien terakhir di sebuah pulau terpencil di Maluku. Tiba-tiba masuk seorang ibu membawa puterinya yang ternyata menderita penyakit ‘hernia incacerata’, usus terjepit.
“Penyakit seperti itu harus dioperasi dalam waktu 8 jam atau ususnya akan rusak…”
Ternyata si ibu ini telah menempuh perjalanan 3 hari 2 malam untuk mencapai tenda pengobatannya. Untung operasi berjalan lancar dan sukses. Pak dokter menyadari, keberhasilan operasi bukan karena keahliannya semata, ada ‘tangan-tangan tak kasat mata’ yang telah membantunya. Semenjak itu sebuah bisikan, “Maukah kau melayani-Ku?” berulang-ulang terngiang, mengejarnya, mengikutinya, menerornya.

Awalnya ia menolak. Sebuah pergumulan panjang menantang ego, kesombongan dan keakuan.
“Aku sudah banyak membantu orang,” bantahnya, “apalagi yang harus kulakukan?”
Namun bayangan wajah si anak yang berhasil ia selamatkan selalu muncul. Akhirnya ia menyerah. “Tuhan, saya mau,” bisiknya lirih.
Dan ia pun mendapat ide membuat ‘Rumah Sakit Apung’, menjemput bola orang-orang sakit di pelosok tanah air.

“Indonesia adalah negara kepulauan, banyak daerah terpencil yang miskin dan belum terjangkau dan butuh pelayanan medis sebagaimana mestinya,” tutur pak dokter penuh prihatin.
Ia pun memperlihatkan foto-foto di pedalaman Papua, dimana saudara-saudara kita harus berjalan berhari-hari melewati gunung dan sungai untuk mendapat pengobatan.

“Bukan masalah berapa banyak orang yang bisa diobati, tapi bagaimana saudara-saudara kita di Pulau Kei, Flores, Bangka, Belitung, Timor Barat, Papua, bisa mendapat pelayanan medis yang baik, dengan cuma-cuma.”
Saya mengangguk.
“Itulah keindonesiaan sejati. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, setiap anak bangsa berhak mendapat kehidupan yang layak sesuai amanat UUD ’45!” ujarnya keras.
Saya menggigil.

Di usianya yang semakin senja, didera berbagai penyakit yang menerpa, sesungguhnya ia berhak memilih – duduk ongkang-ongkang menikmati kesuksesannya. Tapi ia memilih lain. Ia memilih meletihkan diri. Ia memilih terus mengabdi, memperbaiki nasib anak bangsa melalui pelayanan medis.

“Berkah Demografis atau Petaka Demografis (yang akan dicapai Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun),” tuturnya, “ditentukan oleh ketersediaan lapangan kerja dan kondisi kesehatan masyarakat.”
Peran para tenaga medis sangat sentral dan strategis.

Kemiskinan tidak senantiasa menjadikan setiap orang dendam atau marah terhadap lingkungan sekitar atau Pemerintah, terhadap orang-orang kaya atau orang sukses. Tapi kemiskinan bisa mengasah dan memacu, menjadikan seseorang keras dan militan – dalam menggapai asa dan berbagi Kemanusiaan. Kemiskinan hanyalah kondisi, mental miskin itulah kebahlulan.

Sang Dokter Gila Berhati Mulia berkata, “Kita ini hidup oleh Kasih yang sudah kita terima terlebih dahulu dari Tuhan kita, dan Kasih inilah yang mau kita bagikan. Ketika kita menyisihkan sebagian dari uang kita, ketika kita menyisihkan sebagian dari waktu kita, ketika kita menyumbangkan sebagian dari kepandaian kita untuk orang-orang yang tidak mempunyai ‘privilege’ untuk mendapat pertolongan, katakanlah khususnya di bidang medis, hati kita akan berbunga-bunga melihat betapa banyak air mata kegembiraan mengalir ketika melihat anaknya, suaminya, istrinya, ibunya, dan lain-lainnya menjadi sembuh. Inilah yang menjadi inspirasi bagi kami, inilah yang menjadi motivasi dan sumber energi yang selalu terbarukan ketika mengingat bahwa Kasih itu sesuatu yang indah, dan karena Kasih itulah kita hidup dan Kasih itulah yang hendak kami bagikan!”
Nampaknya ia sungguh meyakini kata-katanya.

Bagi saya, Dokter Gila Berhati Mulia ini tidak hanya telah mengoperasikan sebuah Rumah Sakit Apung, tapi sebuah Bahtera Kemanusiaan, yang siap memperbaiki kesehatan sekaligus nasib anak-anak bangsa yang terabaikan, di seluruh jengkal terpencil, di sebuah Negara Besar – bernama ‘INDONESIA’.

Harjanto Halim
Pengurus Perkoempoelan Sosial Boen Hian Tong

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply