Ayo Kenali Diri, Membangun “Self Image”

0

“A poor self-image is the magnifying glass that can transform a trivial mistake or an imperfection into an overwhelming symbol of personal defeat”

“Citra diri yang buruk adalah suryakanta yang dapat mengubah kesalahan kecil dan ketidaksempurnaan menjadi sebuah simbol kekalahan diri”

(David D. Burns)

Dalam segala lingkup pergaulan, kerap kita jumpai munculnya aktivitas pergunjingan dalam banyak kesempatan pertemuan. Namanya bergunjing, pasti yang menjadi sorotan adalah unsur negatif dari subjek pembicaraan. Agama dan norma sosial sebenarnya menabukan hal ini, karena tidak produktif. Daripada hanya ngrasani, tentu lebih baik bekerja guna menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

Namun ada satu hal yang layak disorot dari siapapun yang menjadi target pergunjingan, yaitu soal self image alias citra diri. Terlepas dari benar atau salah dan akurat atau tidak topik-topik yang dijadikan pergunjingan, hal ini sesungguhnya menandakan adanya kualitas self image yang rendah pada diri orang bersangkutan.

Mengapa sampai sisi-sisi negatifnya terkuak sehingga menjadi bahan santapan publik? Apa yang diperbincangkan orang-orang di balik punggungnya tak lain sebenarnya adalah citra dia di mata umum. Dan imej di mata khalayak adalah cerminan dari kemampuan atau ketidakmampuan kita dalam mengelola self image. Logikanya, jika citra kita terhadap diri sendiri sangat jernih dan positif, maka output-nya akan serupa pula.

Faktor inilah yang seringkali terlupakan dan terlewatkan saat kita membawa diri beraktualisasi dan bersosialisasi dalam masyarakat. Berdasar pemikiran tentang “Inilah apa adanya aku” atau “Memang sudah dari sononya”, kita sekehendak hati saja dalam bertingkah laku. Tak ada standar ukuran yang jelas mengenai pikiran dan perilaku, pokoknya ya asal seperti air mengalir saja.

Sikap perikehidupan yang semacam ini terutama menggejala global lewat aktivitas kita di media sosial. Ditambah fakta bahwa akun medsos adalah milik sendiri, dan medsos itu sendiri hanyalah “media suka-suka hiburan pengisi waktu luang” dan tak seformal media massa, kita jadi “terdidik” untuk bertingkah semaunya di Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sejenisnya.

Apa pun gambar yang ingin dipajang, apa pun kalimat yang tergerak untuk dituliskan, dan apa pun kata-kata yang kita bubuhkan sebagai komentar semua meluncur lepas begitu saja, termasuk sembarangan me “like” gambar atau foto . Tak heran perilaku di medsos kerap kali tak sesuai dengan latar belakang baik profesi maupun kedudukan di masyarakat.

Mengaku tokoh bermoral, namun memencet tombol suka semaunya di posting-posting seksi tak jelas. Dikenal sebagai figur terhormat dan bijaksana, namun mengeluarkan kata-kata kotor baik dalam status dan cuitan maupun saat berkomentar. Dari sini publik pun jadi meragukan moral dan kebijaksanaan mereka, bahkan bisa juga soal tingkat pendidikan dan kecerdasan.

Semua tak akan terjadi jika kita berhasil membangun self image yang positif. Dengan citra diri yang baik, perilaku kita ke dunia luar otomatis akan terjaga. Semua ada aturannya, yang berawal dari niat berbenah diri sendiri, tidak asal tabrak mengikuti kondisi suasana hati dan emosi. Pada ujung akhirnya, semua perkataan dan perbuatan kita akan selalu tertata. Dan itu akan menutup celah bagi orang lain untuk menggunjingkan kita, karena susah mencari sisi negatif yang bisa dieksploitasi.

Adapun langkah paling awal dari pembentukan citra diri yang baik adalah dengan mengenali diri sendiri. Bagaimana bisa membenahi sesuatu jika kita tak mengamati betul hal tersebut? Dalam kaitan dengan citra diri, maka yang perlu dipahami mendalam tentu adalah diri sendiri. Secara garis besar, ada tiga tahapan yang bisa ditempuh menuju pengenalan diri.

Pertama, mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Tiap orang pasti memiliki kedua hal ini, tak mungkin tidak. Film dan novel inspiratif kerap menghadirkan tokoh yang sempurna bak dewa dengan serendeng kelebihan yang menakjubkan, sehingga kita terbuai tanpa ujung. Pada satu titik, ini bisa sangat menyesatkan, karena membuat kita hanya mengenali sisi positif, tanpa menyadari adanya sisi gelap pada diri tiap manusia tak terkecuali kita sendiri.

Namun banyak juga orang yang kurang bisa mengenali kelebihan, apa yang dimiliki sejak dari ciri fisik hingga sifat-sifat dan metoda berpikir. Tetapi menutupi diri dengan melebih-lebihkan sisi baik itu, atau mengarang-ngarang saja hal yang sesungguhnya tidak ada. Sebaliknya, ada juga yang susah menemukan sisi kekurangan, karena kita telah telanjur percaya bahwa diri kita hebat. Ada, tentu saja, namun otak dan hati kita menolak untuk mengakui. Akibatnya, kita juga yakin itu tidak eksis.

Cara terbaik adalah jujur untuk mengenali dan menerima sisi posistif dan negatif yang ada pada diri sendiri dengan menuliskan daftar sisi positif dan negatif dari kebiasaan, sifat, pemikiran kita dan yang kedua adalah meminta bantuan orang lain—orang-orang terdekat yang benar-benar mengenal diri kita, sejujur-jujurnya tanpa ada tekanan atau motivasi yang lain. Sebaliknya, kita juga harus akomodatif dan terbuka terhadap sisi-sisi negatif yang mereka paparkan. Terima saja dulu, disimpan dan ditelaah kemudian, jangan langsung dibantah dan didebat.

Karena telah tahu kekurangan diri, maka kita dapat melangkah menuju tahap kedua, yaitu membangun diri. Membangun berarti memperbaiki yang sudah ada atau mewujudkan sesuatu yang baru. Karena tahu salah satu sisi negatif kita adalah maunya menang sendiri dan tak mau mendengarkan omongan orang lain, maka kita bisa menahan diri untuk tidak ngoceh dan bersedia lebih banyak mendengar. Kita juga termotivasi untuk mempelajari skill-skill atau pola pikir baru yang selama ini belum dipunyai.

Kemudian, dengan diri yang pelan-pelan terbangun, kita akan mampu mewujudkan langkah ketiga, yaitu memberi kesan pertama yang baik. Tahu ungkapan “Love at first sight”? Kata “love” di sini tak hanya merujuk pada cinta romantis saja, melainkan semua jenis perasaan positif satu manusia terhadap manusia lain. Dan momen first sight itu sesungguhnya memiliki kedudukan yang amat penting bagi eksistensi kita di satu komunitas, lingkungan, atau tempat kerja baru.

Dalam hidup, kita akan selalu berada pada hal-hal baru yang kita masuki kali pertama. Bertemu bos tertinggi atau orang penting, wawancara kerja, dikenalkan dengan calon mertua, atau hari pertama masuk kerja, ketemu orang dijalan dsb. Sikap paling perfect kita dalam mengantisipasi hal-hal baru itu amat krusial dalam menimbulkan kesan pertama yang baik bagi lingkungan. Mengapa? Karena seringkali tak ada kesempatan kedua.

Maka sekali kesan itu timbul di benak mereka, ia akan terekam permanen, berhubung kita belum tentu akan bertemu lagi atau berada kembali dalam suasana serupa. Dan kemampuan kita memberikan kesan pertama yang terbaik akan sangat erat berkaitan dengan seberapa jauh kita berhasil membangun diri, baik dalam berkata-kata, menjaga senyuman serta tatapan mata penuh percaya diri, dan juga dalam berpenampilan.

Secara tidak disadari, itu akan mendidik kita untuk “terpaksa” memperbaiki diri. Ada ungkapan berbunyi “Alah bisa karena terbiasa”. Jika kita terbiasa untuk mendidik diri sendiri berkelakuan sesuai dengan kesempurnaan penampilan dan situasi, lama-lama kesempurnaan sikap itu akan bisa juga dimiliki. Tanpa memerlukan waktu terlalu lama, kita akan melihat diri kita ternyata sudah berbeda dari beberapa waktu sebelumnya. Jauh meningkat, jauh lebih elegan, dan jauh lebih tertata.

Pada saat itulah kita berhasil membangun citra diri yang positif. Dan itu akan menghasilkan imej alias citra yang baik juga ke dunia luar. Di medsos pun, aktivitas dan perkataan kita akan jauh lebih terjaga. Selalu berkesesuaian dengan profesi dan jabatan serta kedudukan, sehingga publik akan melihat adanya kesamaan antara pekerjaan dan pangkat kita dengan apa yang terlihat melalui medsos.

Di tingkatan dunia nyata, citra yang baik akan membuat publik bingung mencari celah karakter negatif untuk digunjingkan. Akhirnya mereka bersedia membicarakan kita melalui sisi-sisi baik, tak saja melalui percakapan informal, melainkan juga media massa formal. Kita mendapatkan apa yang paling diinginkan manusia dalam hidupnya, yaitu nama baik dan pengakuan.

Semua berkat pengenalan diri yang baik.

Bonita DS
Direktur YPI Training Centre & Consultancy
Professional Trainer

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply