4 Syarat Iklan Online Bagi Produk Kesehatan dan Kecantikan

0

Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, nilai penjualan online di Indonesia pada tahun 2015 diperkirakan telah menembus angka 50 triliun rupiah. Transaksi online untuk produk kesehatan dan kecantikan termasuk salah satu yang paling hot setelah fashion, handphone/gadget, dan peralatan elektronik. Banyak supplier produk kesehatan dan kecantikan yang menawarkan skema reseller dan dropship sehingga modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha minim dan bahkan tidak harus stok. Tentunya ini sangat menarik bagi pemula dan sebagai usaha sampingan. Margin penjualan produk kesehatan/kecantikan juga relatif cukup besar. Tapi benarkah berjualan produk kesehatan dan kecantikan secara online demikian mudah dan menarik?

Memasarkan produk kesehatan dan kecantikan secara online membutuhkan perhatian khusus. Beberapa perusahaan besar seperti Google dan Facebook memberlakukan policy atau peraturan yang cukup ketat untuk pengiklanan jenis usaha ini. Contohnya adalah Kebijakan Keamanan Pengguna AdWords oleh Google. Dalam menerapkan policy nya, mereka umumnya memiliki berbagai tahapan verifikasi, yaitu filtering secara otomatis dan pengecekan manual. Jika tidak sesuai dengan policy, seringkali konten iklan akan ditangguhkan atau dihapus. Bahkan bisa jadi akun pengiklan di-banned secara permanen. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga keamanan dan informasi yang benar bagi pengguna. Di lain pihak bagi penjual yang ingin memasarkan produknya secara online, seringkali ini menjadi kesulitan tersendiri.

Sebagai konsultan pemasaran online, saya seringkali diminta klien untuk membantu memasarkan produk-produk kesehatan dan kecantikan. Masalah mereka kurang lebih hampir sama. Di sini saya akan menjelaskan masalah-masalah yang paling sering terjadi yang menyebabkan iklan tidak disetujui.

Pastikan Produk yang Dipasarkan Telah Bersertifikasi
Di Indonesia setiap produk kesehatan, kosmetik atau kecantikan harus bersertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM). BPOM adalah lembaga pemerintah yang bertugas untuk mengawasi peredaran makanan, minuman dan obat-obatan serta memastikan produk-produk tersebut layak beredar dan terbebas dari bahan berbahaya. Sebelum mulai usaha pastikan produk yang anda pasarkan telah memiliki sertifikasi BPOM. Kemudian cantumkan kode registrasi BPOM tersebut di website atau social media penjualan anda. Selain sebagai persyaratan wajib, hal ini tentunya juga menambah kepercayaan pembeli akan produk anda. Publik juga dapat dengan mudah melakukan verifikasi pengecekan kode BPOM melalui website http://cekbpom.pom.go.id/. Jika suatu produk mencantumkan kode registrasi BPOM namun saat dicek tidak ditemukan di website tersebut, bisa jadi itu adalah kode registrasi palsu. Berhati-hatilah dalam memilih supplier produk. Pastikan semua ijin telah terverifikasi dan produk yang dipasarkan memang asli atau original.

Berhati-hati dengan Peraturan Perusahaan dan Merek Terdaftar
Di Indonesia banyak produk kesehatan/kecantikan yang dipasarkan melalui suatu sistem Network Marketing atau Multi Level Marketing. Seringkali untuk melindungi para anggotanya, perusahaan tersebut melarang pemasaran produknya secara online. Mereka juga membuat patokan harga penjualan tertentu. Sehingga penjualan di bawah harga yang telah ditentukan bisa mendapatkan sanksi.

Sebagian perusahaan pemegang merek terdaftar (trademark) akan melarang penggunaan merek di dalam iklan tanpa ijin tertulis. Seringkali karena ketidaktahuannya, para penjual mencoba mencantumkan nama merek tersebut di dalam materi iklannya. Tapi iklan akan ditolak oleh Google atau Facebook. Atau perusahaan berkaitan bisa juga mengajukan permintaan penghapusan.

Jangan Melakukan Klaim Berlebih
Nah ini adalah salah satu masalah yang paling sering dijumpai di dalam halaman penjualan (sales page) produk kesehatan dan kecantikan. Dengan tujuan untuk lebih meyakinkan calon pembeli, seringkali penjual mencantumkan kata-kata yang bombastis seperti “Garansi kulit putih dalam 7 hari” atau “Tubuh anda akan langsing dalam sekejap”. Kalimat-kalimat dalam website seperti ini akan membuat iklan terkena suspend oleh Google atau Facebook. Termasuk juga memberikan table ilustrasi atau gambar “hasil riset” yang menunjukkan berapa manfaat yang dirasakan oleh pengguna, dan sebagainya. Meskipun yakin produk tersebut memang bermanfaat, gunakan kata-kata yang lebih halus seperti “Membantu mencerahkan kulit” atau “Membantu mengurangi berat badan”. Mungkin anda merasa kata-kata tersebut tidak menjual, tapi percayalah kata-kata bombastis yang berlebihan juga tidak akan berguna hari-hari ini karena pembaca sudah lebih kritis. Selain tentunya karena konten iklannya tidak akan disetujui oleh Google, Facebook, atau platform online lainnya.

Cantumkan Disclaimer
Saat menuliskan deskripsi manfaat atau testimoni pengguna di website, cantumkan juga Disclaimer yang terlihat. Contoh Disclaimer seperti “Hasil bersifat subyektif dan dapat berbeda-beda bagi setiap individu”. Disclaimer seperti ini harus dimunculkan di setiap klaim atau testimonial yang ada di tiap halaman website. Google juga tidak mengijinkan jaminan-jaminan yang lain kecuali jaminan uang kembali (Money Back Guarantee). Jadi anda tidak dapat mencantumkan jaminan seperti misalnya Satisfaction Guaranteed (Jaminan kepuasan) atau jaminan mutu.

Meskipun ketat dalam persyaratan, namun pemasaran produk kesehatan dan kecantikan secara online via website dan social media tetap memiliki daya tarik tersendiri. Dibandingkan hanya menggunakan media chat seperti BBM atau WA yang terbatas, penjual dapat memiliki akses calon pembeli yang lebih luas. Melalui teknik pemasaran yang tepat sasaran, tingkat konversi penjualan juga lebih tinggi. Alhasil keuntungan pun dapat segera diraih.

Hero Wijayadi
Founder HeroSoftMedia – Digital Marketing Agency, Semarang
www.herosoftmedia.co.id

KOMENTAR ANDA

Share.

Leave A Reply